Jumat, 27 April 2012

Jenuh


Ada kalanya manusia butuh kesendirian. Ketika hati ini mulai jenuh dan mudah dirasuki pikiran buruk tentang saudara-saudara yang ada di sekeliling kita, maka menjauhlah untuk sementara. Carilah cahaya Allah pada masa-masa kesendirian itu. Berusaha lebihlah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah lah sumber segala solusi untuk manusia.


Tanyakanlah pada diri, apa yang menyebabkanmu jenuh terhadap kehidupan dunia.
Apakah karena terkecewakan oleh perilaku seseorang yang sebelumnya menjadi idola dan panutan bagi kita?



Sadarlah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Hanya satu manusia yang diciptakan oleh Allah mendekati kesempurnaan, yaitu beliau SAW. Bagaimana Allah SWT telah membersihkan kalbu beliau melalui perantara Malaikat Jibril di masa kecilnya. Bagaimana istimewanya beliau bahkan sebelum terlahir diduniapun telah banyak desas-desus akan kehadirannya di kalangan manusia pada saat itu. Orang yang sudah dijanjikan oleh Allah akan masuk surga. Tetapi Beliau SAW adalah manusia yang PALING mendekati sempurna, ya. Beliau tidak sempurna. Karena hanya Allah-lah yang Maha Sempurna, Maha Segala-galanya.
Maka apalah yang membuat kita terkecewakan oleh perilaku orang lain yang bahkan belum sampai pada taraf sempurna itu? Tanyakanlah pada dirimu.


Apakah kau jenuh karena suara dakwahmu tidak didengarkan?
Tengoklah kehidupan Rasulullah SAW. Dimana banyak orang yang mendustakan beliau walaupun mereka mengetahui dan mennyetujui bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang mulia. Mereka mendustai kebenaran, hanya karena mereka takut akan merasa terkekang dengan kebenaran itu. Mereka merasa kebebasannya tercerabut oleh kebenaran. Padahal mereka sebenarnya sedang terkekang dalam kebebasan itu sendiri. Karena diri kita ini hanya milik Allah. Sejak masih berupa ruh pun kita sudah milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah. Apakah orang-orang seperti ini yang membuatmu ingin menyatakan berhenti dari dakwah?
Begitukah?
Apakah hanya sampai disitu perjuanganmu? Apakah hanya sampai disitu keinginanmu melihat dan menempati surga bersama orang-orang yang kau dakwahi? Apakah begitu?
Ayolah, cercaan, cibiran, makian, dan tatapan sinis itu hanya akan kau dapatkan di dunia. Bahkan di surga kelak jika kita sempat merasakannya (Amin Ya Rabb), orang-orang macam itu sudah tidak ada. Kita tidak akan pernah mengenal kata-kata seperti itu. Karena kita telah disibukkan dengan nikmatnya air telaga Rasulullah, bidadari-bidadari yang menemani, perhiasan dan kekayaan yang berlimpah dan segalanya yang telah dijanjikan oleh Allah. Apakah kau tidak tergiur dengan hal itu? Janji Allah akan balasan di surga ini tidak sebanding dengan cercaan, cibiran, makian, dan tatapan sinis yang kita dapatkan di dunia. Maka benahi lagi niat kita. Berdakwah bukanlah karena ingin memperbanyak jumlah jamaah, atau membesarkan nama jamaah, melainkan untuk bersama-sama mencari Ridho Allah dan menghadiri tempat yang sudah disiapkan oleh Allah bagi orang-orang yang senantiasa beribadah kepada-Nya.


Lalu, apa lagi yang membuatmu jenuh?
Apakah karena tidak ada si fulan atau si fulanah yang menyertai dakwahmu di ranah tertentu?
Sungguhkah begitu alasannya?
Masya Allah. Maha Besar Allah yang telah memberikan fitrah kepada manusia untuk mencintai dan menyukai. Mencintai itu fitrah ukh, akh, tetapi harus ditempatkan pada tempat yang benar. Apakah kita bisa berdakwah dengan baik dan benar ketika di alam bawah sadar kita hanya si fulan atau fulanah yang kita pikirkan? Apakah dakwah bisa berjalan lancar hanya ketika di fulan atau fulanah ikut membantu? Apakah si fulan atau fulanah bahkan pernah memikirkan kita, padahal kita sibuk memikirkan tentang dia?
Allah, jagalah hati-hati para penerus risalah Rasulullah SAW ini agar dakwah tidak dicemari dengan virus-virus yang menodai  kemasalahatan umat. Jagalah hati-hati dan pandangan-pandangan ini agar tidak terpolusikan oleh bisikan-bisikan setan yang terkutuk. Yakinkanlah kami bahwa Engkau telah memberikan pilihan terbaik bagi kami untuk dijadikan pasangan hidup masing-masing. Bahwa Engkau telah mengatur segalanya untuk kami dengan indahnya. Amin.


Jenuhkah engkau ketika keluarga-keluargamu menuntut untuk tidak berjilbab sepanjang itu atau untuk mencukur habis jenggotmu?
Maka jelaskanlah kepada mereka, bahwa ini adalah prinsip. Prinsip hidup Islami yang jelas dituliskan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Seandainya dunia ini diisi oleh umat Islam yang berIslam tidak hanya dengan mengerjakan Sholat saja tanpa tahu maknanya, yang tidak membaca Al-Qur'an saja tanpa tahu maksudnya, maka umat manusia tidak perlu repot-repot untuk bedakwah. Tetapi tidak begitu akh, ukh, tidak begitu yang diatur oleh Allah. Allah mengatur manusia-manusia seperti ini karena Allah ingin agar kita berusaha. Termasuk kepada keluarga-keluarga kita. Maka apa yang kita tunggu untuk menyebarkan kebaikan kepada orang terdekat kita yaitu keluarga tersayang?


Setelah hati-hati ini menjawab alasan kejenuhan-kejenuhan kita dalam berdakwah, maka kembalilah. Kembalilah untuk berkarya dalam dakwah, berdakwah dalam karya. Kembalilah kepada dekapan ukhuwah bersama manusia-manusia yang juga memiliki kesatuan tujuan. Rasakan kembali bagaimana indahnya cipratan ghiroh yang berapi-api dalam menyebarkan tauhid. Bagaimana indahnya tawa dan duka dalam setiap perjuangan. Maka, berdoalah agar kita dapat dipertemukan di Jannah-Nya kelak, amin.


--Terinspirasi dari Dalam Dekapan Ukhuwah, Sallim. A. Fillah--


by. Aisyah Wahyu Wardani
Masjid An-Nahl Fapet Unpad, Jatinangor
27 April 2012
15:31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar