Aku tak suka anak kecil, mereka gampang menangis. Sudah gitu banyak sekali anak kecil yang tidak mau nurut jika disuruh sesuatu, contoh terdekatnya adikku (hehehe, senyum evil).
Dulu, ketika salah satu temanku menganggung-agungkan anak kecil (yang ini lebay, cuma kiasan kok ga beneran), sampe-sampe profile FB-nya pun anak kecil melulu, dia selalu aku ejek. Dia berkata kalau anak kecil itu lucu. Dia bahkan berkata jika kalau saja bisa punya anak tanpa suami dia mau punya anak sekarang juga. Tapi sayangnya tidak bisa, punya anak otomatis punya suami juga. Memangnya mau MBA? Ndaklah aneh-aneh aja.
Back to topic. Yeah, sebenarnya aku punya pengalaman buruk bersama anak kecil. Aku adalah orang yang lebih suka ditinggal sendiri. Tapi maksud dari ditinggal sendiri disini bukan dikucilkan atau sebagainya, melainkan lebih senang sendirian kalau sedang bersama orang yang kurang dekat. Karena aku merasa kurang nyaman bersama orang yang tidak terlalu dekat, maka aku akan menjadi canggung. Begitu juga ketika dengan anak kecil. Anak kecil akan kuperlakukan sama dengan orang dewasa. Aku akan merasa canggung dan tidak tau mau ngapain jika sedang bersama anak kecil. Makanya, jangan pernah titipkan anak kecil padaku, hehe.
Dulu sempat budeku menitipkan cucunya padaku. Saat itu sedang ada acara nikahan saudara jadi semuanya mengantri untuk didandani di ruang rias. Karena melihat aku menganggur, budeku itu menitipkan cucunya padaku. Nah, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan anak kecil itu. Awalnya kami akrab, aku main-main dengannya. Tapi itu tidak berjalan lama, anak itu mulai rewel. Astagaaa, betapa menyebalkanya jika anak kecil sedang rewel.
Apalagi anak itu ada dipelukanku saat itu.
Segala macam kulakukan untuk mengalihkan tangisnya, aku bawa dia kesana kemari, tapi tetap saja menangis. Pegal rasanya tanganku menggendongnya, mati rasa. Akhirnya budeku datang menyelamatkanku dari tikaman cucunya itu (?). Akupun terbebas dari mati rasa ditangan, dan kuping yang pengang karena mendengar tangisannya terus-menerus. Aku melarikan diri setelah itu.
Sejak saat itu, aku tidak pernah mau lagi menggendong anak kecil. Rasanya takut. Takut tiba-tiba tanganku tidak kuat dan terjatuh, atau tiba-tiba si anak menangis saat dipelukank, kan aku merasa jadi penyebab anak itu menangis walaupun belum tentu itu penyebabnya. Bahkan setelah kejadian itu, melihat anak kecil saja malas.
Tapi setelah menonton suatu program TV yang dimana anak kecil menjadi pemeran utamanya, aku jadi kembali suka anak kecil. Dia sangat LUCU!!! Aku menyadari dengan amazing (?) kalau ternyata anak kecil itu lucu sekali. Nggak bosan kalau memperhatikan anak kecil lama-lama. Sama halnya jika aku sedang memperhatikan kucing lama-lama, enghilang stress. Kecuai kalau anak kecil itu rewel, well, lain ceritanya itu mah. Aku akan berubah kesal, hehe. Anak kecil itu matanya biasanya besar, dan jernih. Pipinya menggembung menggemaskan, dan terkadang bibirnya mengucapkan kata-kata abstrak yang terdengar imut. Sorot matanya ingin tahu dan polos, atau terkadang malu-malu, membuat ingin mencubit mereka karena gemas.
Yeah, ternyata anak kecil itu penghilang stress, karena lucu. Tapi juga penghilang tenaga, karena mereka suka heboh kesana kemari dengan tenaga yang unbelievable. Ingin rasanya aku menggendong anak kecil satu kaliiiii saja. Tapi tentunya dengan ijin dan pengawasan orangtuanya. Sehinga jika sampai (naudzubillah ini mah) aku tidak kuat menggendongnya dan sempoyongan orangtuanya bisa mengambil alih. Atau jika tiba-tiba anak kecil itu menangis tanpa sebab mereka akan tahu bahwa bukan aku yang menyebabkan mereka menangis, melainkan mereka menangis karena kemauannya (haha, apa sih).
Kapan ya waktu itu datang? Aku tidak mau jika menunggu sampai aku punya anak sendiri. Itu mah fitrah, jadi udah nggak kepengen lagi tapi keharusan. Ayo siapapun temanku, berikan aku keponakan, aku ingin coba menggendongnya... Hehehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar