Kamis, 01 Juli 2010

“Setelah Masuk Islam, Saya Merasa Lebih Terbebaskan sebagai Perempuan”

“Setelah Masuk Islam, Saya Merasa Lebih Terbebaskan sebagai Perempuan”

Bagi Sarah Thompson, pindah agama bukanlah persoalan yang mudah karena banyak hal-hal baru yang harus ia pelajari Bagi kebanyakan perempuan non-Muslim yang memutuskan menjadi seorang muslim, persoalan yang paling rumit adalah bagaimana memberitahukan keislaman mereka pada keluarga dan orang-orang tercinta.

Tapi Sarah bersyukur, ia tidak mengalami kerumitan itu saat mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi seorang muslimah pada keluarganya. “Saya merasa benar-benar mendapat berkah karena reaksi keluarga saya lebih baik dibandingkan reaksi keluarga lainnya dari cerita yang pernah saya dengar,” ungkapnya.

Sarah Thompson yang lahir dan dibesarkan di Noblesville, Indiana tumbuh di tengah keluarga yang mengklaim sebagai penganut Kristen. Namun Sarah selalu merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Ia lalu mulai mempelajari dan memperdalam agama Islam.

“Saya seperti menemukan rumah bagi rohani saya,” ujarnya tentang Islam

Sarah akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2008 setelah selama enam bulan mempelajari agama Islam. Ketika ia memberitahu ibunya bahwa ia kini seorang muslimah, sang ibu hanya berkomentar, “Oke, tak mengapa, apa yang bisa saya lakukan?” Ibu Sarah lalu berlalu dan kembali dengan membawakannya beberapa kerudung penutup kepala.

Tapi tidak semua orang bersikap seperti ibunya. Beberapa kerabat Sarah, bahkan ayah kandung dan ayah tirinya sulit menerima keputusan Sarah menjadi seorang muslim. Namun kebanyakan teman Sarah memberikan dukungan, meski mereka kadang berpikir bahwa dirinya sudah gila karena memilih menjadi penganut agama Islam. Apalagi selama ini Sarah dikenal sebagai seorang feminis yang fanatik.

“Saya selalu menjadi seorang feminis yang fanatik, maka ketika sahabat-sahabat saya berpikir bahwa saya sudah gila, itu artinya mereka serius mengatakan itu. Tapi pengetahuan mereka tentang Islam sangat terbatas. Mereka melihat seorang perempuan yang berjilbab dan mengenakan cadar adalah kaum perempian yang tertindas, begitulah citra yang mereka miliki,” tutur Sarah.

Lucunya, ujar Sarah, ketika menjadi seorang muslimah ia justru merasa lebih terbebaskan daripada ketika ia masih menjadi seorang Kristiani. “Saya tidak merasa tertindas, tapi saya tidak merasa terbebaskan ketika masih menganut agama Kristen. Setelah menjadi seorang muslim, saya merasa lebih bebas dan merdeka. Perlakuan terhadap kaum perempuan di beberapa negara cenderung karena pengaruh budaya dan tentu saja tidak islami. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa perempuan punya hak, laki-laki juga punya hak. Kami punya hak yang sama,” papar Sarah.

Ia mengungkapkan, kedamaian dalam Islam yang membuatnya tertarik pada Islam. “Islam adalah agama komunitas tapi fokusnya adalah masing-masing individu dan hubungannya dengan Tuhan. Setiap hari Anda berdoa dan berusaha untuk melakukan kebaikan. Hanya Anda dan Tuhan yang tahu, apa yang telah Anda lakukan,” ujar Sarah. (ln/mv/EM)


copas dari http://www.kajianislam.net/modules/wordpress/2010/06/29/setelah-masuk-islam-saya-merasa-lebih-terbebaskan-sebagai-perempuan/

IPK oh IPK...

Yah, baru-baru ini nilai-nilaiku keluar. Dan hasilnya sangat mengerikan, ada salah satu mata kuliah yang gagal sama sekali. Sakit rasanya, nampak seperti perjuanganku untuk mengerti betul apa yang dijelaskan oleh dosen itu tidak berarti apa-apa. Selalu, ketika dosen menjelaskan aku berusaha dengan sangat untuk tidak tertidur atau terpengaruh oleh sesuatu yang lain, Namun, memang sudah takdirnya tidak lulus mata kuliah ini, sejak awal aku tidak menyukai dosennya dan sering merasa ngantuk saat kuliah, bahkan terkadang sampai tertidur. Sudah berkali-kali aku diajari oleh dosen itu. 3 kali paling tidak. Yang pertama aku baru menyesuaikan diri, jadi nilaiku jelek. Yang kedua aku berusaha untuk tidak bertemu dengannya lagi saat mengulang nanti, jadi aku bisa lulus. Nah, sekarang yang ketiga, dan itu sangat mengerikan. Dengan materi yang begitu banyak, dan dosen yang begitu tidak kusukai, sulit sekali untuk memperhatikannya betul-betul.

Hhh, selama satu semester ini aku ngapain saja ya? Sepertinya hanya stress sendiri, tanpa bisa menyembuhkan rasa stress itu.

IPK ph IPK ku,,, bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Nampaknya semester depan tidak ada harapan untuk mengambil banyak sks.
Help...