Jumat, 27 April 2012

Jenuh


Ada kalanya manusia butuh kesendirian. Ketika hati ini mulai jenuh dan mudah dirasuki pikiran buruk tentang saudara-saudara yang ada di sekeliling kita, maka menjauhlah untuk sementara. Carilah cahaya Allah pada masa-masa kesendirian itu. Berusaha lebihlah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah lah sumber segala solusi untuk manusia.


Tanyakanlah pada diri, apa yang menyebabkanmu jenuh terhadap kehidupan dunia.
Apakah karena terkecewakan oleh perilaku seseorang yang sebelumnya menjadi idola dan panutan bagi kita?

Kamis, 19 April 2012

Allah, hatiku resah...


Allah...
Hatiku resah...

Ternyata selama ini aku punya kekasih lain selain dirimu...
Kekasih pertamaku:
Aku lebih mementingkan akademikku di dunia daripada akademikku pada-Mu,
Kekasih keduaku:
Aku lebih memilih pergi berjalan-jalan ke mall bersama temanku daripada pergi ke majelis-majelis yang mengingatkanku pada-Mu,
Kekasih ketigaku:
Aku lebih memilih mendengarkan lagu dunia daripada mendengarkan lagu yang mengingatkanku pada-Mu,
Kekasih keempatku:
Aku lebih memilih mengobrolkan dunia daripada bertasbih pada-Mu,
Kekasih kelimaku:
Aku lebih memilih membaca novel dan komik daripada membaca surat cinta-Mu.
Kekasih keenamku:

Senin, 16 April 2012

Last Promise [Cerpen]


Last Promise

by. Aisyah Wahyu Wardani

Fathin menatap pada cangkir berisi minuman kesukaannya, mocca latte. Pandangannya kosong, hati dan pikirannya memikirkan sesuatu—yang sebenarnya sangat malas untuk dia pikirkan saat ini. Jari tangan kanannya mengelus-elus bibir cangkir minumannya, dia menunggu wanita di depannya ini mengatakan sesuatu. Sudah sejak 10 menit yang lalu sejak wanita ini mengajaknya bertemu di salah satu cafe terdekat dengan kantor Fathin, dia belum mengatakan apapun.

“Raisa—”

“Fathin!” perkataan Fathin terpotong oleh seruan wanita di hadapannya yang tiba-tiba.

“Pulanglah!” seruannya tidak mengecil, wanita yang dipanggil Raisa itu memandang Fathin dengan sungguh-sungguh. Sejak 10 menit yang lalu dia selalu menunduk, memikirkan kata-kata apa lagi yang harus diberikannya pada kakak 3 menitnya itu untuk melunakkan hatinya.

Ya, Fathin dan Raisa adalah saudara kembar. Fathin telah sangat lama meninggalkan rumah sejak Ayahnya mengusirnya karena Fathin tidak mau melanjutkan meneruskan usaha keluarga dan malah memilih bekerja di Jakarta.

Senin, 09 April 2012

Bapak Tua Penjual Koran



Teringat satu hari sibuk saat dikampus, dimana agendaku sudah terangkum padat.

Ketika itu aku sedang menunggu balasan sms dari temanku yang minta ditemani dan ditonton saat seminar.
Aku duduk di kursi dan meja panjang di depan gedung kuliah temanku, mengeluarkan buku untuk dibaca saat menunggu. Maklum, sore nanti aku akan mengisi mentoring, sudah sepatutnya mereview dulu sebelum mengisi. Agar lebih siap dan yakin saat mengisi nanti.

Tiba-tiba seseorang menghampiriku yang sedang menunduk membaca buku di tempat duduk yang sepi mahasiswa itu. Aku menegok dan melihat seseorang yang sering aku lihat di depan gerbang masuk kampus, biasanya menjual tali sepatu warna-warni di tangannya. Bapak Tua itu, yang selalu aku lewati saat menjajakan dagangannya dengan senyum menolak, menandakan bahwa aku tidak akan membeli dagangannya. Oh, Allah, akhirnya aku bertemu dengan Bapak Tua ini. Bapak Tua yang terkenal di dunia sosial media mahasiswa Unpad. Terkenal tanpa diketahui oleh Bapak Tua itu sendiri. Banyak orang yang mempostingkan realita kehidupan Bapak Tua yang tidak diketahui namanya ini di FB. Mereka melakukan wawancara singkat pada Bapak Tua itu karena kasihan melihatnya yang kurus dan menyedihkan selagi menjual tali sepatunya yang tidak laku-laku. Sudah lama aku merasa tersentuh dan ingin membantu Bapak Tua itu namun bingung apa yang harus kulakukan untuk membantu Bapak itu karena aku tidak membutuhkan tali sepatu.

Mentoring Yuuuk


Suatu malam Umar ibn Al-Khattab keluar rumah hingga tiba di Baitul Haram. Dia menyibak kain penutup Ka'bah, dan dilihatnya Nabi Muhammad SAW sedang berdiri melaksanakan shalat. Saat itu beliau membaca surat Al-Haqqah. Umar menyimak bacaan Al-Qur'an itu dan dia merasa takjub terhadap susunan bahasanya. Dia berkata dalam hati, "Demi Allah, tentunya ini adalah ucapan seorang penyair seperti yang biasa diucapkan oleh orang-orang Quraisy."

Disaat yang sama Nabi SAW membaca,
"Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Ras yang mulia, dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit ksekali kalian beriman kepadanya." (Al-Haqqah:40-41)

Umar berkata dalam hati, "Kalau begitu ucapan tukang tenung."

Nabi SAW membaca,
"Dan, bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam."

Beliau meneruskan bacaannya hingga akhir surat. Mulai saat itulah Islam mulai menyusup ke dalam hatinya. Tetapi, dia tetap berkeras memerangi Islam hingga tiba waktunya Allah mengabulkan permohonan Rasulullah SAW untuk menngokohkan Islam dengan salah satu Umar. Umar ibn Al-Khattab lah orangnya.


-Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri-


Teman-teman tentunya tahu kelanjutan ceritanya? Bagaimana Umar bin Khattab akhirnya, melalui perantara adik dan iparnya, benar-benar tersentuh oleh apa yang dibawa Nabi Muhammad SAW  dan kemudian masuk Islam.

Begitu sulitnya Umar bin Khattab meninggalkan ajaran jahiliyahnya ketika itu hingga walaupun hatinya telah tersentuh dengan ayat-ayat Allah, dia masih saja berusaha untuk memerangi Islam. Sama halnya dengan paman Rasulullah, Abu Tholib, yang hingga akhir hayatnya masih belum juga mengucapkan kalimat syahadat. Padahal Abu Tholib berjanji untuk melindungi Rasulullah dan membiarkannya menyebarkan agama Islam, tapi Abu Tholib tetap tidak mau masuk kepada agama yang dibawa keponakannya. Apalagi Abu Jahal, salah satu Umar yang Rasulullah doakan untuk masuk Islam namun tidak terpilih, berusaha dengan segala upaya untuk memerangi Rasulullah dan orang-orang Islam.

Minggu, 01 April 2012

Anak Kecil...

Aku tak suka anak kecil, mereka gampang menangis. Sudah gitu banyak sekali anak kecil yang tidak mau nurut jika disuruh sesuatu, contoh terdekatnya adikku (hehehe, senyum evil).

 Dulu, ketika salah satu temanku menganggung-agungkan anak kecil (yang ini lebay, cuma kiasan kok ga beneran), sampe-sampe profile FB-nya pun anak kecil melulu, dia selalu aku ejek. Dia berkata kalau anak kecil itu lucu. Dia bahkan berkata jika kalau saja bisa punya anak tanpa suami dia mau punya anak sekarang juga. Tapi sayangnya tidak bisa, punya anak otomatis punya suami juga. Memangnya mau MBA? Ndaklah aneh-aneh aja.

 Back to topic. Yeah, sebenarnya aku punya pengalaman buruk bersama anak kecil. Aku adalah orang yang lebih suka ditinggal sendiri. Tapi maksud dari ditinggal sendiri disini bukan dikucilkan atau sebagainya, melainkan lebih senang sendirian kalau sedang bersama orang yang kurang dekat. Karena aku merasa kurang nyaman bersama orang yang tidak terlalu dekat, maka aku akan menjadi canggung. Begitu juga ketika dengan anak kecil. Anak kecil akan kuperlakukan sama dengan orang dewasa. Aku akan merasa canggung dan tidak tau mau ngapain jika sedang bersama anak kecil. Makanya, jangan pernah titipkan anak kecil padaku, hehe. Dulu sempat budeku menitipkan cucunya padaku. Saat itu sedang ada acara nikahan saudara jadi semuanya mengantri untuk didandani di ruang rias. Karena melihat aku menganggur, budeku itu menitipkan cucunya padaku. Nah, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan anak kecil itu. Awalnya kami akrab, aku main-main dengannya. Tapi itu tidak berjalan lama, anak itu mulai rewel. Astagaaa, betapa menyebalkanya jika anak kecil sedang rewel.