Minggu, 07 November 2010

Gara-gara Sang Kodok

Hari itu Kamis, 4 November 2010. Hari dimana aku mendapatkan tugas untuk presentasi esoknya. Karena presentasi itu sangat menyedot seluruh perhatianku dan rekan satu kelompok presentasiku, kami mengerjakannya di kosanku hingga larut Isya. Setelah mengantarkan temanku hingga ke pintu keluar kosan, aku berniat untuk main sebentar saja di kamar temanku yang lain. Sebut saja Keysuma (terserah mau nganggep nama samaran ato bukan). Well, memang niatnya hanya sebentar. Kira-kira setengah atau satu jam saja sudah cukup. Tetapi aku malah menghabiskan sekitarisatu setengah sampai dua jam disana. Menonton. Karena aku menyadari bahwa tugasku belum sepenuhnya selesai dan video yang ditonton sudah habis, aku berniat untuk kembali ke kamar.

Tapi ketika aku membuka pintu kamar Keysuma dan keluar darinya, aku merasakan sesuatu menyentuh rokku. Aku pikir telah menjatuhkan sesuatu yang sebelumnya kupegang. Tapi, aku tidak memegang apapun saat itu. Akhirnya aku melihat ke dinding di hadapanku, dan melihat seuatu berwarna gelap menempel di dinding yang berwarna terang. Itu adalah kodok. Dan yang aku tahu Keysuma sangat tidak menyukai kodok. Aku terdiam beberapa saat memandangi kodok itu. Karena melihat aku yang terdiam, Keysuma langsung memanggil-manggilku panic.

“Ai, ada apa sih?”

“Bukan apa-apa kok, kau tidak perlu tahu,” aku langsung menutup pintu kamarnya, takut dia jadi histeris.

“Eh, Ai, aku serius! Ada apa sih?” Akhirnya aku tidak tega juga melihatnya panic, dan memberitahunya apa itu. Setelah kuberitahu apa itu, dia bertambah panik. Nada suaranya meninggi karena takut. Dia menyuruhku untuk mengecheck lagi si kodok itu.

Aku memperhatikan tempat dia menempel tadi. Kodoknya sudah tidak ada. Tapi aku masih belum percaya kalau kodok itu bisa menghilang begitu saja. Karena itu aku mencari-cari di rak sepatu yang sama-sama berwarna gelap. Dan ternyata dia menempel di situ!!! Aku merasa geli melihatnya. Aku takut saat mencari-cari si kodok malah melompat ke arahku. Hii, geli sekali!!!

“Masih ada disitu Keysuma!!!”

“Aduh, aku mau ke kamar mandi tapi tidak berani!” katanya,. Ya sudahlah, akhirnya aku menemani dia pergi ke kamar mandi. Itupun kamar mandi yang diatas karena jika ingin ke kamar mandi yang dibawah harus melewati si kodok. Ahh, lucunya, menemani teman pergi ke kamar mandi hanya karena dia takut pada kodok. Biasanya orang=orang minta ditemani ke kamar mandi karena dia takut hantu (hahaha).

Akhirnya saat kemabli ke kamar lagi, letak si kodok sudah berubah. Posisinya sekarang lebih dekat ke kamarnya Keysuma. Dia tambah histeris dan malah memanggil-manggil namaku.

“Kau jangan nangis, Keysuma!!” aku menyerukannya sambil tertawa-tawa geli. Padahal saat itu sudah hampir jam 11 malam.

“Ya sudah, kau panggil saja Aa penjaga kosan. Biar dia saja yang mengusir kodoknya,” aku bilang. Karena Keysuma panic, dia malah bertanya,

“Bagaimana mengatakannya padanya?” Ampun deh, karena panic, untuk meminta penjaga kosan mengusir kodok saja sampai lupa bagaimana caranya.

Saat Keysume memanggil Aa penjaga kosan, seseorang temanku keluar dari kamarnya.

“Ada apa sih?”

“Hehehe, ada kodok, dan Keysuma sangat tidak menyukai kodok,” jawabku sambil terus tertawa geli. “Sudah kau masuk saja, daripada kodoknya masuk ke kamarmu,” aku mengatakannya tepat saat Keysuma kembali bersama Aa penjaga kosan.

“Keysuma, kamu menangis?” Tanya temanku itu. Keysuma hanya menggeleng dan mengatakan tidak.

Dia masih berseru-seru histeris saat Aa penjaga kosan pergi untuk mengambil sesuatu untuk mengusir sang kodok. Keysuma saking takutnya malah berniat untuk masuk ke kamarku, tapi akhirnya dia masuk juga ke kamarnya. Saat Aa penjaga kosan berusaha mengusir si kodok, Keysuma terus saja berseru-seru, membuatku tertawa-tawa di kamar sendirian . Dia memperhatikan Aa penjaga kosan mengambil kodok dari dalam jendela kamarnya. Namun, sang kodok malah melompat ke arah jendela kamarnya. Dan dia menjerit histeris lagi.

Ya ampun, histeris banget sih! Kalau lagi ngomongin hantu aja, dia tidak ketakutan, malah gencar menakut-nakuti temannya. Sekarang sama kodok aja sudah histeris. Dasar Keysuma… Ya akhirnya sang kodok pembawa keributan pun berhasil disingkirkan.

Ternyata ketakutan manusia itu bisa begitu beragam ya… ^_^

Kamis, 01 Juli 2010

“Setelah Masuk Islam, Saya Merasa Lebih Terbebaskan sebagai Perempuan”

“Setelah Masuk Islam, Saya Merasa Lebih Terbebaskan sebagai Perempuan”

Bagi Sarah Thompson, pindah agama bukanlah persoalan yang mudah karena banyak hal-hal baru yang harus ia pelajari Bagi kebanyakan perempuan non-Muslim yang memutuskan menjadi seorang muslim, persoalan yang paling rumit adalah bagaimana memberitahukan keislaman mereka pada keluarga dan orang-orang tercinta.

Tapi Sarah bersyukur, ia tidak mengalami kerumitan itu saat mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi seorang muslimah pada keluarganya. “Saya merasa benar-benar mendapat berkah karena reaksi keluarga saya lebih baik dibandingkan reaksi keluarga lainnya dari cerita yang pernah saya dengar,” ungkapnya.

Sarah Thompson yang lahir dan dibesarkan di Noblesville, Indiana tumbuh di tengah keluarga yang mengklaim sebagai penganut Kristen. Namun Sarah selalu merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Ia lalu mulai mempelajari dan memperdalam agama Islam.

“Saya seperti menemukan rumah bagi rohani saya,” ujarnya tentang Islam

Sarah akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2008 setelah selama enam bulan mempelajari agama Islam. Ketika ia memberitahu ibunya bahwa ia kini seorang muslimah, sang ibu hanya berkomentar, “Oke, tak mengapa, apa yang bisa saya lakukan?” Ibu Sarah lalu berlalu dan kembali dengan membawakannya beberapa kerudung penutup kepala.

Tapi tidak semua orang bersikap seperti ibunya. Beberapa kerabat Sarah, bahkan ayah kandung dan ayah tirinya sulit menerima keputusan Sarah menjadi seorang muslim. Namun kebanyakan teman Sarah memberikan dukungan, meski mereka kadang berpikir bahwa dirinya sudah gila karena memilih menjadi penganut agama Islam. Apalagi selama ini Sarah dikenal sebagai seorang feminis yang fanatik.

“Saya selalu menjadi seorang feminis yang fanatik, maka ketika sahabat-sahabat saya berpikir bahwa saya sudah gila, itu artinya mereka serius mengatakan itu. Tapi pengetahuan mereka tentang Islam sangat terbatas. Mereka melihat seorang perempuan yang berjilbab dan mengenakan cadar adalah kaum perempian yang tertindas, begitulah citra yang mereka miliki,” tutur Sarah.

Lucunya, ujar Sarah, ketika menjadi seorang muslimah ia justru merasa lebih terbebaskan daripada ketika ia masih menjadi seorang Kristiani. “Saya tidak merasa tertindas, tapi saya tidak merasa terbebaskan ketika masih menganut agama Kristen. Setelah menjadi seorang muslim, saya merasa lebih bebas dan merdeka. Perlakuan terhadap kaum perempuan di beberapa negara cenderung karena pengaruh budaya dan tentu saja tidak islami. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa perempuan punya hak, laki-laki juga punya hak. Kami punya hak yang sama,” papar Sarah.

Ia mengungkapkan, kedamaian dalam Islam yang membuatnya tertarik pada Islam. “Islam adalah agama komunitas tapi fokusnya adalah masing-masing individu dan hubungannya dengan Tuhan. Setiap hari Anda berdoa dan berusaha untuk melakukan kebaikan. Hanya Anda dan Tuhan yang tahu, apa yang telah Anda lakukan,” ujar Sarah. (ln/mv/EM)


copas dari http://www.kajianislam.net/modules/wordpress/2010/06/29/setelah-masuk-islam-saya-merasa-lebih-terbebaskan-sebagai-perempuan/

IPK oh IPK...

Yah, baru-baru ini nilai-nilaiku keluar. Dan hasilnya sangat mengerikan, ada salah satu mata kuliah yang gagal sama sekali. Sakit rasanya, nampak seperti perjuanganku untuk mengerti betul apa yang dijelaskan oleh dosen itu tidak berarti apa-apa. Selalu, ketika dosen menjelaskan aku berusaha dengan sangat untuk tidak tertidur atau terpengaruh oleh sesuatu yang lain, Namun, memang sudah takdirnya tidak lulus mata kuliah ini, sejak awal aku tidak menyukai dosennya dan sering merasa ngantuk saat kuliah, bahkan terkadang sampai tertidur. Sudah berkali-kali aku diajari oleh dosen itu. 3 kali paling tidak. Yang pertama aku baru menyesuaikan diri, jadi nilaiku jelek. Yang kedua aku berusaha untuk tidak bertemu dengannya lagi saat mengulang nanti, jadi aku bisa lulus. Nah, sekarang yang ketiga, dan itu sangat mengerikan. Dengan materi yang begitu banyak, dan dosen yang begitu tidak kusukai, sulit sekali untuk memperhatikannya betul-betul.

Hhh, selama satu semester ini aku ngapain saja ya? Sepertinya hanya stress sendiri, tanpa bisa menyembuhkan rasa stress itu.

IPK ph IPK ku,,, bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Nampaknya semester depan tidak ada harapan untuk mengambil banyak sks.
Help...

Minggu, 27 Juni 2010

Sahabatku, Eka dan Farida...

Sahabat…

Milad bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ketika hari milad para sahabat datang yang musti terlintas adalah,”waktuku tinggal sedikit, bagaimana jika dalam waktu dekat ini aku dipanggil oleh Allah dengan tidak membawa apa-apa?”. Memang jika mengingat kematian di hari milad itu tidak enak. Hanya merusak keindahan, kesenangan saja. Namun, kematian itu memang harus kita ingat setiap waktu, bukan hanya pada saat seseorang baru saja meninggal, atau ketika kita sedang berdoa saja. Karena kematianpun tidak akan datang di saat yang kita tahu. Dia mungkin saja datang saat kita sedang tidak mengingatnya. DI saat yang tidak disangka-sangka. Disaat kita belum siap. Astaghfirullah, sungguh merugi jika meninggal di saat kita belum siap.

Tapi, tidak ada yang melarang juga ketika kita ingin sedikit merayakan datangnya hari milad kita itu untuk mensyukuri betapa kita telah diberi hidup sampai saat ini. Disediakan waktu yang banyak oleh Allah untuk mempelajari hal-hal baru di dunia, diberi senang, teman, saudara yang banyak memberi kasih sayang kepada kita. Itulah yang harus kita rayakan saat milad datang, dengan cara mensyukurinya.

Sahabatku… Met Milad ya…

Semoga di sisa harimu bisa memberikan banyak pelajaran buatmu, bisa membuatmu semakin mengerti arti hidup yang telah diberikan Allah untukmu, semakin baik dalam mensyukuri pemberian-Nya, semakin menjadi anak yang Solehah, dan semoga kita bisa bertemu kembali di surga-Nya bersama-sama,.

Amin Amin Ya Rabbal Alamin

*Teruntuk sahabatku Nurul Eka yang baru saja berulang tahun 26 Juni lalu, serta Farida Cahya Kusuma 1 Juni lalu (maafkan ya sahabatku, hanya ini yang bisa kuberikan, maaf pula telat bilangnya).

Jumat, 25 Juni 2010

Menulislah!!!


Apa yang harus ku tulis ya?

Mentor ku berkata bahwa kita harus sering-sering menulis buku harian, atau catatan harian. Entah itu memang dalam berbentuk buku ataupun diketik di laptop, yang penting tulis apa yang ingin kau tulis. Karena, yang pertama, bisa meningkatkan imun tubuhmu. Belum tahu sih apa alasan medisnya. Yang kedua, bisa melatih ingatanmu. Biasanya, kalo aku pribadi nih, ketika kita merasakan suatu hal baik itu gembira ataupun sedih atau kagum, hanya pada saat itu saja. Sebentar lagi rasa itu akan menghilang. Dan hal-hal seperti itulah yang membuatmu dewasa dengan mengenal hal yang baru. Gembira karena hal ini, sedih karena hal itu, itulah yang membuatmu lebih dewasa. Tetapi ternyata kau melupakannya begitu saja, itu yang dinamakan merugi. Sudah diberikan saat yang bisa membuatmu menjadi lebih dewasa malah dilupakan. Makanya, jika kita adalah tipe orang yang mudah lupa, sering-seringlah menuliskan perasaanmu. Mungkin bisa meningkatkan daya ingatmu juga.

Makanya kenapa, Aya dari film “One Litre of Tears” disuruh menulis buku harian oleh dokternya. Selain sang dokter bisa melihat perkembangan atau penurunan dari Aya, itu juga bisa membuat otaknya berfungsi. Di otaknya tidak hanya tertera tulisan “aku akan mati sebentar lagi, waktuku tidak sedikit lagi” dan terus menyesalinya, tetapi dia bisa terlepas dari beban itu dan hidup seperti orang biasa. Ketika kita menulis kan berarti otak sedang memproses hal yang ingin diutarakan dan kata-kata yang tepat untuk mengutarakannya. Otak bekerja otomatis.

Aku pribadi terkadang merasa malas melanjutkan tulisanku karena susah menemukan hal yang ingin diutarakan. Akhirnya tulisanku berhenti begitu saja, menggantung. Tulisan yang dimaksud olehku adalah cerpen dan buku harian. Mereka berhenti dengan cerita yang menggantung begitu saja. Ketika aku berniat untuk melanjutkannya ternyata hal yang ingin aku ceritakan sudah terlupakan. Dan cerita itu tetap saja menggantung hingga sekarang. Ck ck ck…

Makanya, mulailah menulis sejak sekarang! Biasakan membawa catatan kecil, sehingga saat kau merasa bahagia, kagum, sedih, dll kau bisa langsung menuliskannya di buku tersebut. Kemudian ketika sudah memiliki waktu luang untuk menuliskan kronologis dan unek-unekmu tuliskanlah.

Rabu, 19 Mei 2010

Dear Dad


Forgive me if I possibly hurt your feelings today.
My immature self just said immature things.
If you possibly can't understand my feelings, it's fine.
No need for excuses, It's all my fault.

Even if you don't say everyone knows, both your eyes are immersed with tears.
Sorry, so sorry. This is my heart.
You know the day I've opened up my heart I'll do better.
Sorry. I'm sorry. I can't say anything other than this.

You can still hate me for your sorrowful feelings.
There's no need for any expressions. To me you'll be here forever.

Even if you don't say everyone knows, both your eyes are immersed with tears.
Sorry, so sorry. This is my heart.
You know the day I've opened up my heart I'll do better.
Sorry. I'm sorry. I can't say anything other than this.

I can't do anything other than this. I can't imagine a world without you.
Although I'm lacking and deficient, I love you.

Even if you don't say everyone knows, both your eyes are immersed with tears.
Sorry, so sorry. This is my heart.
You know the day I've opened up my heart I'll do better.
Sorry. I'm sorry. I can't say anything other than this

Sorry, sorry. So hard to say I'm sorry.
Sorry, I'm sorry. I can't say anything other than this

Senin, 17 Mei 2010

Dear Mom


For some reason i’m worn out and tired
remaining alone in my room, hugging a pillow
touching my phone, my heart is
for some reason lonely today

freightened by the sudden ringing of my phone
my mother’s worried call asking me if i’ve eatten
those normally annoying words are different today
those forgotten promises are being remembered.

I’ll become a person with a beautiful heart
become a person who is selfless

i’ll protect the expectations from mother’s love
i think of mother who used to share my dreams and brush my hair
though i’ve made hurtful, wrong choices you silently watched over me from behind
though a young and ‘innocent’/ not yet fully understanding child, i think i
understand now, the meaning behind mother’s silent prayers
what do I do, my yet small heart
will it do well without holding mothers hand
i fear/am weary because I still lack so much
’ll become a wise mother’s daughter, give me the strength/confidence
i’ll become a praiseworthy daughter no matter where I go

mother, i really love you.
Omma, jeongmallo saranghaeyo...

Minggu, 25 April 2010

Cerita lucu di kosan...

Pondok Annisa, sebuah kosan di dekat jalan raya sebrang Rumah Makan Suharti, Jatinangor. Kosanku yang ke-3, yang sekarang telah berganti pemilik dan berganti nama pula menjadi Pondok Aisyah (walaupun nama itu belum terpakai sampai sekararng).

Pondok Annisa, adalah kosan yang dahulunya sederhana saja, tetapi semenjak berganti pemilik menjadi agak mewah sedikit dengan banyak perubahan dan perombakan disana-sini. Pondok Annisa ini terdiri dari berbagai macam makhluk hidup, diantaranya yang bisa aku sebutkan: manusia, cicak, tikus, kodok, kecoa, dan kucing. Nah makhluk yang terakhir inilah yang akan aku bahas saat ini.

Sebenarnya ini cerita temanku, tetapi aku sudah kebelet pengen cerita tentang hal itu disini.

Mengenai kucing, yang namanya hewan pasti tidak memiliki akal. Dan mereka biasa buang pup dimana saja. Maaf, memang agak jorok, tapi hal itu menarik untuk diceritakan, hehe…

Kucing di Pondok Annisa itu lumayan banyak jika dibandingkan dengan kosan lain. Mungkin karena di kosan ini para penduduknya banyak yang menyukai kucing, jadi mereka merasa nyaman berada di situ. Mulai dari sang mama kucing yang sekarang telah memiliki 3 anak: item-putih, oren, telon, dulu ada kucing betina yang dinamai miew, terus ada juga kucing jantan yang namanya bebe, dan kucing terkecil namanya Pechul (red-diambil dari nama personil Super Junior, haha).

Banyak bukan? Nah itu lah yang membuat jengah sang penjaga kosan. Karena tidak adanya fasilitas tempat pembuangan air untuk kucing, kucing-kucing itu jadi buang air dimana saja. Setiap keluar kamar pasti ada (untung kamarku di atas, kucing-kucing itu hanya buang air dibawah). Terkadang bahkan setiap masuk kamar mandi ada pup kucing (kucingnya pintar buang air di kamar mandi, hanya saja mereka belum diajari cara mengguyur kloset dengan air).

Berdasarkan cerita temanku, saat itu temannya temanku itu sedang berkunjung ke kamar temanku. Dia menggunakan setelah kondangan yang rapi bersih: baju batik (kebetulan hari itu hari Jum’at), sandal yang mirip selop. “Riweuh banget pokoknya deh ngeliat dia,” kata temanku. Tiba-tiba saja saat dia keluar kamardan berjalan di bagian blok-bloknya temannya temanku ini berteriak, “aah, sepertinya aku menginjak sesuatu.”

“Rok kamu kali,” jawab temanku.

“Bukan, kelihatannya itu sesuatu yang lain,”

Dari kata-kata, ekspresi, dan nada bicaranya sudah ketahuan apa yang baru saja diinjaknya itu. Kami sangat menyesali hal itu, padahal dia pulang ke Bandung bukan ke kosan, jadi perjalanan masih jauh.

“Sudahlah, nanti dalam perjalanan pulang juga pasti hilang,” kata temanku.

“Tidak, baunya itu kan aku tidak tahan,” jawab temannya temanku. Sing sabar yo!!!

Di lain pihak, sang penjaga kosan kami yang sudah jengah dengan kelakuan kucing-kucing di kosan kami, membersihkan pup itu dengan sangat sabar, sabar yang aneh menurutku. Jadi ketika dia membersihkannya, dilakukannya sambil bernyanyi. Nyanyiannya tidak ada di rekaman manapun, tidak ada artis manapun yang menyanyikan lagu itu. Karena lagunya menggunakan bahasa sunda dan menceritakan tentang derita pup kucing. Saya translate saja ya:

“Aduh, pup kucing, gimana, gimana dong ini?”

Intinya, dia menggerutu sambil membersihkan sambil menyanyi. Aneh sekali. Niatnya tu apa sih? Menggerutu, membersihkan, atau menyanyi? Aduh ckckck…

Cerita lain lagi, tentang tema sekosanku, sebut saja E, yang kamarnya bersebelahan dengan temanku yang tadi.

Temanku ini baru saja membeli sandal jepit. Dan dia memamerkan sandal itu kepada teman-teman yang kamarnya dekat dengannya.

“Eh, gue cinta banget dah ma swallow ini,” sambil memamerkannya ke teman-temannya.

Tiba-tiba saja “JREK” sesuatu diinjak olehnya. Wajahnya langsung biru dan tidak bisa berkata-kata lagi (lebay).

“Gue nginjek SESUATUUU!!!”

Yah. Itulah akibat memamerkan sandal, hadiahnya langsung keluar dari bumi, wkwkwkkkk…

Semoga bisa diambil hikmahnya, hehehe..

(Aduh, tidak berhenti tertawa mengingatnya).

Selasa, 20 April 2010

Ketika Lelah Menerjang

Ketika lelah menerjang, ingatlah akan janji yang telah terucap, orang-orang yang akan dikecewakan, kemenangan yang menanti dan Allah SWT...

Jatinangor, 20 April 2010
pukul 14.05
by. Aisyah...

Minggu, 21 Maret 2010

Chowa yo...

Ayah dan Ibuku…

Maafin danny ya kalo wajahnya selalu cemberut saat kita bertemu. Entah kenapa saat berjauhan, perasaan kangen itu bisa muncul tiap saat. Tapi saat bertemu, otomatis ekspresi wajah yang keluar adalah seperti itu. Sepertinya memang sudah sejak dulu aku menggunakan ekspresi wajah seperti itu saat bertemu dengan Ayah dan Ibu. Sejak dulu aku tidak pernah sadar saat Ibu mengatakan, “jangan suka cemberut ah, jelek,” aku pikir mungkin saat itu memang sedang tidak mood. Tetapi setelah dilihat sekarang mengapa ekspresi itu selalu muncul saat aku sedang bersama Ayah dan Ibu? Aku juga tidak mengerti.

Aku berpikir, apakah itu karena dahulu sewaktu kecil aku selalu saja cemberut ketika mendapatkan apa yang kuinginkan? Mungkin kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Ketika aku pulang dari Jatinangor, aku merasa bahwa sambutan untukku itu tidak sesuai yang aku inginkan, Ayah Ibu tetap saja sibuk dengan pekerjaannya, makanya ekspresi kesal itu muncul di wajahku.

Maafkan aku Ayah dan Ibu.

Padahal kalian sudah membesarkanku sampai saat ini, menjagaku agar aku tidak jatuh ke jalan-jalan yang sesat atau yang berbahaya. Membesarkanku hingga aku bisa mensyukuri Islam sampai saat ini. Maafkan aku Ayah dan Ibu, mungkin memang egoisku masih besar hingga sekarang. Maafkan anak yang tidak berbakti ini.

Aku menyayangi Ayah, Ibu, dan adik… Keluarga yang Subhanallah, bisa menciptakan aku yang seperti ini. Alhamdulillah…

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan lahir dan batin kepadamu semua…

Amin…