Hari itu Kamis, 4 November 2010. Hari dimana aku mendapatkan tugas untuk presentasi esoknya. Karena presentasi itu sangat menyedot seluruh perhatianku dan rekan satu kelompok presentasiku, kami mengerjakannya di kosanku hingga larut Isya. Setelah mengantarkan temanku hingga ke pintu keluar kosan, aku berniat untuk main sebentar saja di kamar temanku yang lain. Sebut saja Keysuma (terserah mau nganggep nama samaran ato bukan). Well, memang niatnya hanya sebentar. Kira-kira setengah atau satu jam saja sudah cukup. Tetapi aku malah menghabiskan sekitarisatu setengah sampai dua jam disana. Menonton. Karena aku menyadari bahwa tugasku belum sepenuhnya selesai dan video yang ditonton sudah habis, aku berniat untuk kembali ke kamar.
Tapi ketika aku membuka pintu kamar Keysuma dan keluar darinya, aku merasakan sesuatu menyentuh rokku. Aku pikir telah menjatuhkan sesuatu yang sebelumnya kupegang. Tapi, aku tidak memegang apapun saat itu. Akhirnya aku melihat ke dinding di hadapanku, dan melihat seuatu berwarna gelap menempel di dinding yang berwarna terang. Itu adalah kodok. Dan yang aku tahu Keysuma sangat tidak menyukai kodok. Aku terdiam beberapa saat memandangi kodok itu. Karena melihat aku yang terdiam, Keysuma langsung memanggil-manggilku panic.
“Ai, ada apa sih?”
“Bukan apa-apa kok, kau tidak perlu tahu,” aku langsung menutup pintu kamarnya, takut dia jadi histeris.
“Eh, Ai, aku serius! Ada apa sih?” Akhirnya aku tidak tega juga melihatnya panic, dan memberitahunya apa itu. Setelah kuberitahu apa itu, dia bertambah panik. Nada suaranya meninggi karena takut. Dia menyuruhku untuk mengecheck lagi si kodok itu.
Aku memperhatikan tempat dia menempel tadi. Kodoknya sudah tidak ada. Tapi aku masih belum percaya kalau kodok itu bisa menghilang begitu saja. Karena itu aku mencari-cari di rak sepatu yang sama-sama berwarna gelap. Dan ternyata dia menempel di situ!!! Aku merasa geli melihatnya. Aku takut saat mencari-cari si kodok malah melompat ke arahku. Hii, geli sekali!!!
“Masih ada disitu Keysuma!!!”
“Aduh, aku mau ke kamar mandi tapi tidak berani!” katanya,. Ya sudahlah, akhirnya aku menemani dia pergi ke kamar mandi. Itupun kamar mandi yang diatas karena jika ingin ke kamar mandi yang dibawah harus melewati si kodok. Ahh, lucunya, menemani teman pergi ke kamar mandi hanya karena dia takut pada kodok. Biasanya orang=orang minta ditemani ke kamar mandi karena dia takut hantu (hahaha).
Akhirnya saat kemabli ke kamar lagi, letak si kodok sudah berubah. Posisinya sekarang lebih dekat ke kamarnya Keysuma. Dia tambah histeris dan malah memanggil-manggil namaku.
“Kau jangan nangis, Keysuma!!” aku menyerukannya sambil tertawa-tawa geli. Padahal saat itu sudah hampir jam 11 malam.
“Ya sudah, kau panggil saja Aa penjaga kosan. Biar dia saja yang mengusir kodoknya,” aku bilang. Karena Keysuma panic, dia malah bertanya,
“Bagaimana mengatakannya padanya?” Ampun deh, karena panic, untuk meminta penjaga kosan mengusir kodok saja sampai lupa bagaimana caranya.
Saat Keysume memanggil Aa penjaga kosan, seseorang temanku keluar dari kamarnya.
“Ada apa sih?”
“Hehehe, ada kodok, dan Keysuma sangat tidak menyukai kodok,” jawabku sambil terus tertawa geli. “Sudah kau masuk saja, daripada kodoknya masuk ke kamarmu,” aku mengatakannya tepat saat Keysuma kembali bersama Aa penjaga kosan.
“Keysuma, kamu menangis?” Tanya temanku itu. Keysuma hanya menggeleng dan mengatakan tidak.
Dia masih berseru-seru histeris saat Aa penjaga kosan pergi untuk mengambil sesuatu untuk mengusir sang kodok. Keysuma saking takutnya malah berniat untuk masuk ke kamarku, tapi akhirnya dia masuk juga ke kamarnya. Saat Aa penjaga kosan berusaha mengusir si kodok, Keysuma terus saja berseru-seru, membuatku tertawa-tawa di kamar sendirian . Dia memperhatikan Aa penjaga kosan mengambil kodok dari dalam jendela kamarnya. Namun, sang kodok malah melompat ke arah jendela kamarnya. Dan dia menjerit histeris lagi.
Ya ampun, histeris banget sih! Kalau lagi ngomongin hantu aja, dia tidak ketakutan, malah gencar menakut-nakuti temannya. Sekarang sama kodok aja sudah histeris. Dasar Keysuma… Ya akhirnya sang kodok pembawa keributan pun berhasil disingkirkan.
Ternyata ketakutan manusia itu bisa begitu beragam ya… ^_^



