Senin, 16 April 2012

Last Promise [Cerpen]


Last Promise

by. Aisyah Wahyu Wardani

Fathin menatap pada cangkir berisi minuman kesukaannya, mocca latte. Pandangannya kosong, hati dan pikirannya memikirkan sesuatu—yang sebenarnya sangat malas untuk dia pikirkan saat ini. Jari tangan kanannya mengelus-elus bibir cangkir minumannya, dia menunggu wanita di depannya ini mengatakan sesuatu. Sudah sejak 10 menit yang lalu sejak wanita ini mengajaknya bertemu di salah satu cafe terdekat dengan kantor Fathin, dia belum mengatakan apapun.

“Raisa—”

“Fathin!” perkataan Fathin terpotong oleh seruan wanita di hadapannya yang tiba-tiba.

“Pulanglah!” seruannya tidak mengecil, wanita yang dipanggil Raisa itu memandang Fathin dengan sungguh-sungguh. Sejak 10 menit yang lalu dia selalu menunduk, memikirkan kata-kata apa lagi yang harus diberikannya pada kakak 3 menitnya itu untuk melunakkan hatinya.

Ya, Fathin dan Raisa adalah saudara kembar. Fathin telah sangat lama meninggalkan rumah sejak Ayahnya mengusirnya karena Fathin tidak mau melanjutkan meneruskan usaha keluarga dan malah memilih bekerja di Jakarta.


“Bukankah sudah kukatakan bahwa bahasan ini telah selesai sejak dulu?” kata Fathin akhirnya ikut berseru. “Kenapa kau masih datang untuk memaksakan hal yang tidak akan pernah kulakukan?”

“Kami merindukanmu, Fathin. Kita adalah keluarga,” mata Raisa mulai berkaca-kaca. Selalu seperti ini. Selalu saja—sejak dulu—berakhir seperti ini. Fathin yang bersikeras memegang keputusannya untuk tidak pulang, dan Raisa yang menangis karena Fathin tidak menanggapi ajakannya.

“Oke, tidak apa jika kau tidak ingin kembali kerumah sekarang. Namun, kunjungilah Ayah sebentar, dia sedang sakit,” suara Raisa bergetar. Sebenarnya Fathin tidak suka mendengar tangisan wanita, namun karena Raisa selalu menangis saat bertemu dengannya dia jadi merasa terbiasa.

“Ayah sakit?” tanyanya memastikan bahwa Raisa tidak berbohong. Tidak dipungkiri bahwa hatinya terasa berdesir sakit ketika mendengar pernyataan Raisa tadi. Sudah sejak lama dia meninggalkan keluarganya. Seperti apakah rupa Ayah dan Ibunya saat ini?

“Ya, sudah 2 hari dia terbaring di ranjang,” air mata Raisa mulai menetes dari sudut matanya. Dia menghapus tetesan itu dengan cepat.

Fathin segera mengembalikan kesadarannya, dia tidak boleh terlena dengan hal ini. Fathin berdehem dengan cepat dan meminum mocca latte-nya untuk membasahi tenggorokannya.

“Kalau begitu bawa ke rumah sakit,” ucap Fathin merasa tidak sabar. Dia ingin segera pergi dari tempat ini agar tidak semakin terlena dengan ucapan Raisa.

“Ayah berkeras tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Aku rasa jika kau datang Ayah akan senang, Fathin, walaupun ucapannya kasar tapi dia merindukanmu,” Raisa menatap Fathin sungguh-sungguh dengan wajah basah.

“Aku tidak akan pulang,” kata Fathin sambil berdiri. “Selamat tinggal,” katanya sambil pergi keluar cafe meninggalkan Raisa.

Fathin menganggukkan kepalanya ketika bertemu dengan pegawai cafe di balik meja kerjanya. Nampaknya pembicaraan mereka telah terdengar oleh seisi cafe sehingga pegawai wanita itu menatapnya dengan pandangan iba.

Fathin memasukkan tangannya ke dalam saku celana suite-nya. Dia berjalan dengan tubuh condong ke depan, memandangi pantofelnya. Jasnya sudah ditanggalkannya ketika masih dikantor tadi. Fathin menargetkan untuk bertemu dengan Raisa hanya sekitar 15 menit setelah itu kembali ke kantornya yang hanya berjarak 20 meter. Karena itu dia hanya menggunakan rompi suite-nya.

Fathin mengecek jam tangan Rollet-nya, sudah pukul 12.28. Ini artinya jam istirahatnya tinggal 32 menit lagi. Fathin tidak ingin berjalan terlalu cepat ke kantornya. Dia mendadak tidak menginginkan makan siang di cafetaria yang disediakan bagi pegawai kantornya itu. Rasa laparnya hilang digantikan dengan perasaan yang campur aduk. Antara iba melihat Raisa yang menyuruhnya pulang dengan menangis, dan khawatir dengan keadaan Ayahnya. Dia selalu melihat perkembangan Raisa karena saudari kembarnya itu selalu datang menemuinya beberapa bulan sekali. Namun Ayahnya. Dia bahkan sudah 2 tahun penuh belum bertemu dengan pria yang membesarkannya itu. Apakah Ayahnya sudah berkeriput? Apakah rambutnya sudah memutih lebih banyak daripada sebelumnya? Apakah Ayahnya masih suka berlama-lama di kebun demi merawat tanaman favotitnya? Hei, apakah dirinya sekarang tengah merindukan Ayahnya itu?

Iya, Fathin mengakuinya. Dia sangat merindukkan pria yang paling berharga dalam hidupnya itu. Namun ego dan gengsinya menjadi nomor satu dalam segalanya. Termasuk dalam menghadapi keluarganya. Batinnya sangat ingin bertemu dengan mereka, namun pikirannya berkata lain. Sepertinya Fathin harus membaca banyak buku psikologi untuk mengetahui bahwa perasaan hati dan pikiran itu bukan untuk saling mendahului, melainkan untuk saling melengkapi.

Tanpa sengaja, sepatu mahalnya itu menginjak genangan air akibat hujan semalam. Fathin mendecak kencang kemudian mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membersihkan pantofelnya itu.

Sesaat teringat olehnya bagaimana Ayahnya dahulu menalikan sepatu untuknya. Betapa bandelnya dia dahulu, bergerak-gerak jahil sementara Ayahnya dengan sabar berusaha mendiamkannya dan menalikan sepatunya. Fathin masih termangu dalam posisi berjongkok walaupun saputangannya telah menyapu bersih kotoran pada pantofelnya.

Ya Allah, Engkau Maha Pembolak Balik hati. Engkau masih memberikan rasa kasih pada hati Fathin yang selama ini membatu. Engkau masih mengijinkan seorang anak laki-laki untuk merasakan lagi bagaimana rasanya mencintai Ayah yang telah menyakitinya. Hal itu Engkau buktikan dengan langkah Fathin yang dipercepat mendekati cafe yang baru saja ditinggalkannya. Tidak peduli dengan sapu tangan bermerknya yang terjatuh karena dia lupa memasukannya kembali pada saku celananya, tak peduli bahwa gerakan cepatnya mengganggu para pejalan kaki lain karena tertabrak, Fathin segera membuka pintu cafe dengan kasar. Dia sudah tidak sabar. Sangat tidak sabar. Fathin takut jika dia mengijinkan kesabarannya mengendur, maka pikirannya akan kembali datang dan membuatnya mengubah keputusannya untuk mengunjungi keluarganya.

Matanya kembali menjelajahi area dimana tadi dirinya dan adik perempuannya itu duduk. Tidak ditemukannya siapapun di area itu. Fathin kembali mendecak sebal.

“Apakah kau melihat kemana adik perempuanku?” tanyanya tiba-tiba pada pegawai wanita yang tadi memandangnya dengan pandangan iba.

“Ya?” wanita itu tampak bingung sesaat kemudian wajahnya berubah mengerti setelah melihat siapa yang mengajaknya bicara.

“Maksud Anda, wanita yang tadi duduk bersama Anda di meja itu?” balasnya seraya melayangkan telunjuknya pada tempat duduk Fathin dan Raisa tadi. Fathin mengangguk tidak sabar.

“Oh, kalau nona yang itu. Dia sudah keluar dari cafe ini sekitar lima menit yang lalu,” jawabnya. “Hmm, dia pergi ke arah sana,” tambahnya melayangkan tangannya untuk menunjuk arah Raisa pergi tadi.

“Oke, thanks,” Fathin kembali membuka pintu cafe dengan kasar dan bergegas mengejar Raisa mengikuti arah tangan wanita pegawai cafe itu.

Matanya berlari kesana kemari mengimbangi kakinya yang juga bergerak cepat mencari sesosok wanita berkemeja kuning. Yang diketahuinya adik perempuannya itu tidak bisa menggunakan kendaraan apalagi memilikinya. Sudah pasti dia akan menaiki kendaraan umum, dan halte bis berjarak 100 meter dari cafe tadi. Semestinya Fathin sudah bisa menemukan sosok Raisa saat itu, namun nihil. Sampai halte bis terlihat pun sosok kemeja kuning Raisa belum tertangkap oleh sensor mata Fathin.

Mendecak lagi. Fathin selalu melakukannya jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginanya. Sebenarnya kemana perginya adiknya itu? Kenapa hingga saat ini belum terlihat batang hidungnya. Apakah dia sudah naik bis? Lidahnya kembali mendecak sebelum disadari seseorang melewatinya dari belakang. Raisa tidak menyadari Fathin yang ada didepannya karena dia sedang berusaha membuka retsleting pada tas kecil yang menggantung dari bahunya. Tangannya yang lain menggenggam plastik berlogo minimarket. Barang itu tidak dibawanya ketika bertemu dengan Fathin di cafe tadi.

“Raisa!” gadis itu masih berkutat dengan tasnya tanpa mendengar panggilan Fathin. Sepanjang pengetahuan Fathin, Raisa memang tipe orang yang sangat fokus pada satu hal dan akan mengabaikan hal lain meskipun hal tersebut sangat penting. Begitulah yang terjadi sekarang. Raisa tidak menyadari bahwa rambu untuk pejalan kaki sudah menyala merah dan dia tetap menyebrangi jalan bergaris putih itu. Fathin bahkan belum sempat mencapai pinggiran jalan bergaris putih itu dan suara dentuman yang sangat keras terdengar di telinganya. Suara itu disusul dengan teriakan dan gumaman di tempat kejadian, mereka panik melihat seorang gadis tertabrak di depan mata mereka. Begitu pula dengan Fathin.

Didekatinya tubuh Raisa yang bersimbah darah pada tubuh bagian kirinya. Fathin merasa kakinya tidak menyentuh bumi dengan benar. Tubuhnya bergetar hebat. Tentu saja, menyaksikan saudari kembarnya sendiri tertabrak di depan matanya. Rasanya sakit...

Bukan hanya sakit dalam arti kiasan, namun sakit dalam arti sebenarnya. Perbedaan gender bukanlah segalanya, Fathin tetap merasakan apa yang dirasakan kembarannya. Tubuh bagian kirinya terasa ngilu tanpa sebab. Ditambah dengan perasaannya yang sakit karena melihat Raisa terkapar di atas jalanan, melengkapi sakit di dalam hati dan raganya.

Terdengar suara debaman pintu ditutup. Seseorang yang keluar dari sedan putih penyebab Raisa tak sadarkan diri sekarang lamat-lamat mendekati Fathin yang sudah memeluk Raisa. Fathin tidak peduli darah akan mengotori suite-nya. Dia bahkan tidak mendengar panggilan dan gumaman orang-orang yang mulai mengerubungi mereka berdua yang menyuruhnya untuk segera menghubungi Ambulance dan membawa wanita dalam pelukannya ini ke rumah sakit.

Dihiraukannya suara seseorang disampingnya yang menelepon Ambulance dengan panik. Fathin hanya terfokus pada perasaannya, dia mencoba merasakan  tanda-tanda kehidupan wanita di depannya. Raisa masih hidup.

Dilihatnya mata Raisa mengerjap lemah. Fathin mengeratkan pelukannya pada Raisa dan mengangkat kepalanya agar mereka bertatapan.

“Fathin,” Raisa berkata parau, sangat pelan.

“Kau kembali,” wanita itu tersenyum kecil, Fathin membalas senyuman itu.

“Aku tahu kau pasti akan kembali Fathin, aku sangat percaya padamu dan ikatan kita,” Fathin terpaksa harus mendekatkan wajahnya agar suara Raisa bisa lebih jelas pada telinganya.

“Tapi maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu menemui Ayah dan Ibu,” Fathin menangis. Dia merasakan apa yang Raisa rasakan.

“Raisa, jangan berkata begitu,” walaupun Fathin berucap seperti itu, namun hatinya berkata lain: Raisa tidak akan bisa bertahan.

“Mereka sangat menunggu kepulanganmu...”

“Raisa jangan banyak bicara, Ambulance akan datang beberapa saat lagi,” air mata Fathin mengalir sangat deras. Dia tidak bisa menahan gejolak emosinya melihat adik perempuannya dengan kesadaran yang makin menipis.

“Aku tidak butuh Ambulance Fathin, kau tahu itu,” Raisa terbatuk sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Aku ingin kau berjanji,” suara Raisa semakin lemah. “Berjanjilah... Temui Ayah... Minta maaf padanya...” Fathin sangat tidak tega mendengar perkataan Raisa yang terpatah-patah. Waktunya sudah dekat.

Fathin mengangguk cepat, “Tentu, aku berjanji.” Dilihatnya tangan kanan Raisa yang tidak berlumuran darah terangkat perlahan-lahan.

“Jani?” Raisa tersenyum, memberikan kelingking kanannya untuk melakukan ritual perjanjian mereka berdua ketika masih kecil.

“Janji,” Fathin mengaitkan kelingking kanannya pada Raisa dan tersenyum sedih.

Raisa memasang senyum termanis yang bisa dilakukannya dalam keadaan lemah seperti itu. “Selamat ulang tahun, Fathin!” ucapnya dengan suara terakhirnya. Kelingkingnya yang mengait pada milik Fathin melemas. Raisa menutup mata untuk selamanya.

Dengung gumam di sekelilingnya bertambah keras. Mengucapkan bela sungkawa pada sepasang kembar ini dengan tulus. Tetapi dengung yang diciptakan orang-orang itu tidak menghalanginya untuk mengucapkan, “selamat ulang tahun... Raisa.” Fathin mencium punggung tangan Raisa.

-o0o-

Kematian bisa datang dengan cara yang wajar maupun yang tidak wajar. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kematian seseorang. Namun, kematian adalah pelajaran yang paling menyakitkan bagi siapapun yang ditinggalkan. Segera perbaiki hubungan antar manusia sebelum pelajaran yang paling menyakitkan ini menghampiri kita ataupun orang terdekat kita.

Tidak ada rencana yang berjalan mulus sesuai kehendak kita, karena hanya Allah Sang Maha Mengetahui yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ketika rencana dan kehendak berlainan dengan kenyataan, jangan kecewa dan mendendam. Karena yang terbaik adalah menyalakan lilin, bukan memaki kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar