Last Promise
by. Aisyah Wahyu Wardani
Fathin menatap pada
cangkir berisi minuman kesukaannya, mocca
latte. Pandangannya kosong, hati dan pikirannya memikirkan sesuatu—yang
sebenarnya sangat malas untuk dia pikirkan saat ini. Jari tangan kanannya
mengelus-elus bibir cangkir minumannya, dia menunggu wanita di depannya ini
mengatakan sesuatu. Sudah sejak 10 menit yang lalu sejak wanita ini mengajaknya
bertemu di salah satu cafe terdekat dengan kantor Fathin, dia belum mengatakan
apapun.
“Raisa—”
“Fathin!” perkataan Fathin
terpotong oleh seruan wanita di hadapannya yang tiba-tiba.
“Pulanglah!” seruannya
tidak mengecil, wanita yang dipanggil Raisa itu memandang Fathin dengan
sungguh-sungguh. Sejak 10 menit yang lalu dia selalu menunduk, memikirkan
kata-kata apa lagi yang harus diberikannya pada kakak 3 menitnya itu untuk
melunakkan hatinya.
Ya, Fathin dan Raisa adalah
saudara kembar. Fathin telah sangat lama meninggalkan rumah sejak Ayahnya
mengusirnya karena Fathin tidak mau melanjutkan meneruskan usaha keluarga dan
malah memilih bekerja di Jakarta.
“Bukankah sudah
kukatakan bahwa bahasan ini telah selesai sejak dulu?” kata Fathin akhirnya
ikut berseru. “Kenapa kau masih datang untuk memaksakan hal yang tidak akan
pernah kulakukan?”
“Kami merindukanmu, Fathin.
Kita adalah keluarga,” mata Raisa mulai berkaca-kaca. Selalu seperti ini.
Selalu saja—sejak dulu—berakhir seperti ini. Fathin yang bersikeras memegang
keputusannya untuk tidak pulang, dan Raisa yang menangis karena Fathin tidak
menanggapi ajakannya.
“Oke, tidak apa jika kau
tidak ingin kembali kerumah sekarang. Namun, kunjungilah Ayah sebentar, dia
sedang sakit,” suara Raisa bergetar. Sebenarnya Fathin tidak suka mendengar
tangisan wanita, namun karena Raisa selalu menangis saat bertemu dengannya dia
jadi merasa terbiasa.
“Ayah sakit?” tanyanya
memastikan bahwa Raisa tidak berbohong. Tidak dipungkiri bahwa hatinya terasa
berdesir sakit ketika mendengar pernyataan Raisa tadi. Sudah sejak lama dia
meninggalkan keluarganya. Seperti apakah rupa Ayah dan Ibunya saat ini?
“Ya, sudah 2 hari dia
terbaring di ranjang,” air mata Raisa mulai menetes dari sudut matanya. Dia
menghapus tetesan itu dengan cepat.
Fathin segera
mengembalikan kesadarannya, dia tidak boleh terlena dengan hal ini. Fathin
berdehem dengan cepat dan meminum mocca
latte-nya untuk membasahi tenggorokannya.
“Kalau begitu bawa ke
rumah sakit,” ucap Fathin merasa tidak sabar. Dia ingin segera pergi dari
tempat ini agar tidak semakin terlena dengan ucapan Raisa.
“Ayah berkeras tidak
ingin dibawa ke rumah sakit. Aku rasa jika kau datang Ayah akan senang, Fathin,
walaupun ucapannya kasar tapi dia merindukanmu,” Raisa menatap Fathin
sungguh-sungguh dengan wajah basah.
“Aku tidak akan pulang,”
kata Fathin sambil berdiri. “Selamat tinggal,” katanya sambil pergi keluar cafe
meninggalkan Raisa.
Fathin menganggukkan
kepalanya ketika bertemu dengan pegawai cafe di balik meja kerjanya. Nampaknya
pembicaraan mereka telah terdengar oleh seisi cafe sehingga pegawai wanita itu
menatapnya dengan pandangan iba.
Fathin memasukkan
tangannya ke dalam saku celana suite-nya.
Dia berjalan dengan tubuh condong ke depan, memandangi pantofelnya. Jasnya
sudah ditanggalkannya ketika masih dikantor tadi. Fathin menargetkan untuk
bertemu dengan Raisa hanya sekitar 15 menit setelah itu kembali ke kantornya
yang hanya berjarak 20 meter. Karena itu dia hanya menggunakan rompi suite-nya.
Fathin mengecek jam
tangan Rollet-nya, sudah pukul 12.28.
Ini artinya jam istirahatnya tinggal 32 menit lagi. Fathin tidak ingin berjalan
terlalu cepat ke kantornya. Dia mendadak tidak menginginkan makan siang di
cafetaria yang disediakan bagi pegawai kantornya itu. Rasa laparnya hilang digantikan
dengan perasaan yang campur aduk. Antara iba melihat Raisa yang menyuruhnya
pulang dengan menangis, dan khawatir dengan keadaan Ayahnya. Dia selalu melihat
perkembangan Raisa karena saudari kembarnya itu selalu datang menemuinya
beberapa bulan sekali. Namun Ayahnya. Dia bahkan sudah 2 tahun penuh belum
bertemu dengan pria yang membesarkannya itu. Apakah Ayahnya sudah berkeriput?
Apakah rambutnya sudah memutih lebih banyak daripada sebelumnya? Apakah Ayahnya
masih suka berlama-lama di kebun demi merawat tanaman favotitnya? Hei, apakah
dirinya sekarang tengah merindukan Ayahnya itu?
Iya, Fathin mengakuinya.
Dia sangat merindukkan pria yang paling berharga dalam hidupnya itu. Namun ego
dan gengsinya menjadi nomor satu dalam segalanya. Termasuk dalam menghadapi keluarganya.
Batinnya sangat ingin bertemu dengan mereka, namun pikirannya berkata lain.
Sepertinya Fathin harus membaca banyak buku psikologi untuk mengetahui bahwa
perasaan hati dan pikiran itu bukan untuk saling mendahului, melainkan untuk
saling melengkapi.
Tanpa sengaja, sepatu
mahalnya itu menginjak genangan air akibat hujan semalam. Fathin mendecak
kencang kemudian mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membersihkan
pantofelnya itu.
Sesaat teringat olehnya
bagaimana Ayahnya dahulu menalikan sepatu untuknya. Betapa bandelnya dia
dahulu, bergerak-gerak jahil sementara Ayahnya dengan sabar berusaha
mendiamkannya dan menalikan sepatunya. Fathin masih termangu dalam posisi
berjongkok walaupun saputangannya telah menyapu bersih kotoran pada
pantofelnya.
Ya Allah, Engkau Maha
Pembolak Balik hati. Engkau masih memberikan rasa kasih pada hati Fathin yang
selama ini membatu. Engkau masih mengijinkan seorang anak laki-laki untuk
merasakan lagi bagaimana rasanya mencintai Ayah yang telah menyakitinya. Hal
itu Engkau buktikan dengan langkah Fathin yang dipercepat mendekati cafe yang
baru saja ditinggalkannya. Tidak peduli dengan sapu tangan bermerknya yang
terjatuh karena dia lupa memasukannya kembali pada saku celananya, tak peduli
bahwa gerakan cepatnya mengganggu para pejalan kaki lain karena tertabrak, Fathin
segera membuka pintu cafe dengan kasar. Dia sudah tidak sabar. Sangat tidak
sabar. Fathin takut jika dia mengijinkan kesabarannya mengendur, maka
pikirannya akan kembali datang dan membuatnya mengubah keputusannya untuk
mengunjungi keluarganya.
Matanya kembali
menjelajahi area dimana tadi dirinya dan adik perempuannya itu duduk. Tidak
ditemukannya siapapun di area itu. Fathin kembali mendecak sebal.
“Apakah kau melihat
kemana adik perempuanku?” tanyanya tiba-tiba pada pegawai wanita yang tadi
memandangnya dengan pandangan iba.
“Ya?” wanita itu tampak
bingung sesaat kemudian wajahnya berubah mengerti setelah melihat siapa yang
mengajaknya bicara.
“Maksud Anda, wanita
yang tadi duduk bersama Anda di meja itu?” balasnya seraya melayangkan
telunjuknya pada tempat duduk Fathin dan Raisa tadi. Fathin mengangguk tidak
sabar.
“Oh, kalau nona yang
itu. Dia sudah keluar dari cafe ini sekitar lima menit yang lalu,” jawabnya.
“Hmm, dia pergi ke arah sana,” tambahnya melayangkan tangannya untuk menunjuk
arah Raisa pergi tadi.
“Oke, thanks,” Fathin
kembali membuka pintu cafe dengan kasar dan bergegas mengejar Raisa mengikuti
arah tangan wanita pegawai cafe itu.
Matanya berlari kesana
kemari mengimbangi kakinya yang juga bergerak cepat mencari sesosok wanita
berkemeja kuning. Yang diketahuinya adik perempuannya itu tidak bisa
menggunakan kendaraan apalagi memilikinya. Sudah pasti dia akan menaiki
kendaraan umum, dan halte bis berjarak 100 meter dari cafe tadi. Semestinya Fathin
sudah bisa menemukan sosok Raisa saat itu, namun nihil. Sampai halte bis
terlihat pun sosok kemeja kuning Raisa belum tertangkap oleh sensor mata Fathin.
Mendecak lagi. Fathin
selalu melakukannya jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginanya.
Sebenarnya kemana perginya adiknya itu? Kenapa hingga saat ini belum terlihat
batang hidungnya. Apakah dia sudah naik bis? Lidahnya kembali mendecak sebelum
disadari seseorang melewatinya dari belakang. Raisa tidak menyadari Fathin yang
ada didepannya karena dia sedang berusaha membuka retsleting pada tas kecil
yang menggantung dari bahunya. Tangannya yang lain menggenggam plastik berlogo
minimarket. Barang itu tidak dibawanya ketika bertemu dengan Fathin di cafe
tadi.
“Raisa!” gadis itu masih
berkutat dengan tasnya tanpa mendengar panggilan Fathin. Sepanjang pengetahuan
Fathin, Raisa memang tipe orang yang sangat fokus pada satu hal dan akan
mengabaikan hal lain meskipun hal tersebut sangat penting. Begitulah yang
terjadi sekarang. Raisa tidak menyadari bahwa rambu untuk pejalan kaki sudah menyala
merah dan dia tetap menyebrangi jalan bergaris putih itu. Fathin bahkan belum
sempat mencapai pinggiran jalan bergaris putih itu dan suara dentuman yang
sangat keras terdengar di telinganya. Suara itu disusul dengan teriakan dan
gumaman di tempat kejadian, mereka panik melihat seorang gadis tertabrak di
depan mata mereka. Begitu pula dengan Fathin.
Didekatinya tubuh Raisa
yang bersimbah darah pada tubuh bagian kirinya. Fathin merasa kakinya tidak
menyentuh bumi dengan benar. Tubuhnya bergetar hebat. Tentu saja, menyaksikan
saudari kembarnya sendiri tertabrak di depan matanya. Rasanya sakit...
Bukan hanya sakit dalam
arti kiasan, namun sakit dalam arti sebenarnya. Perbedaan gender bukanlah
segalanya, Fathin tetap merasakan apa yang dirasakan kembarannya. Tubuh bagian
kirinya terasa ngilu tanpa sebab. Ditambah dengan perasaannya yang sakit karena
melihat Raisa terkapar di atas jalanan, melengkapi sakit di dalam hati dan
raganya.
Terdengar suara debaman
pintu ditutup. Seseorang yang keluar dari sedan putih penyebab Raisa tak
sadarkan diri sekarang lamat-lamat mendekati Fathin yang sudah memeluk Raisa. Fathin
tidak peduli darah akan mengotori suite-nya.
Dia bahkan tidak mendengar panggilan dan gumaman orang-orang yang mulai
mengerubungi mereka berdua yang menyuruhnya untuk segera menghubungi Ambulance
dan membawa wanita dalam pelukannya ini ke rumah sakit.
Dihiraukannya suara seseorang
disampingnya yang menelepon Ambulance dengan panik. Fathin hanya terfokus pada
perasaannya, dia mencoba merasakan tanda-tanda
kehidupan wanita di depannya. Raisa masih hidup.
Dilihatnya mata Raisa
mengerjap lemah. Fathin mengeratkan pelukannya pada Raisa dan mengangkat
kepalanya agar mereka bertatapan.
“Fathin,” Raisa berkata
parau, sangat pelan.
“Kau kembali,” wanita
itu tersenyum kecil, Fathin membalas senyuman itu.
“Aku tahu kau pasti akan
kembali Fathin, aku sangat percaya padamu dan ikatan kita,” Fathin terpaksa
harus mendekatkan wajahnya agar suara Raisa bisa lebih jelas pada telinganya.
“Tapi maafkan aku, aku
tidak bisa menemanimu menemui Ayah dan Ibu,” Fathin menangis. Dia merasakan apa
yang Raisa rasakan.
“Raisa, jangan berkata
begitu,” walaupun Fathin berucap seperti itu, namun hatinya berkata lain: Raisa
tidak akan bisa bertahan.
“Mereka sangat menunggu
kepulanganmu...”
“Raisa jangan banyak
bicara, Ambulance akan datang beberapa saat lagi,” air mata Fathin mengalir
sangat deras. Dia tidak bisa menahan gejolak emosinya melihat adik perempuannya
dengan kesadaran yang makin menipis.
“Aku tidak butuh
Ambulance Fathin, kau tahu itu,” Raisa terbatuk sebelum kembali melanjutkan
ucapannya. “Aku ingin kau berjanji,” suara Raisa semakin lemah. “Berjanjilah...
Temui Ayah... Minta maaf padanya...” Fathin sangat tidak tega mendengar
perkataan Raisa yang terpatah-patah. Waktunya sudah dekat.
Fathin mengangguk cepat,
“Tentu, aku berjanji.” Dilihatnya tangan kanan Raisa yang tidak berlumuran
darah terangkat perlahan-lahan.
“Jani?” Raisa tersenyum,
memberikan kelingking kanannya untuk melakukan ritual perjanjian mereka berdua
ketika masih kecil.
“Janji,” Fathin
mengaitkan kelingking kanannya pada Raisa dan tersenyum sedih.
Raisa memasang senyum
termanis yang bisa dilakukannya dalam keadaan lemah seperti itu. “Selamat ulang
tahun, Fathin!” ucapnya dengan suara terakhirnya. Kelingkingnya yang mengait
pada milik Fathin melemas. Raisa menutup mata untuk selamanya.
Dengung gumam di
sekelilingnya bertambah keras. Mengucapkan bela sungkawa pada sepasang kembar
ini dengan tulus. Tetapi dengung yang diciptakan orang-orang itu tidak
menghalanginya untuk mengucapkan, “selamat ulang tahun... Raisa.” Fathin mencium
punggung tangan Raisa.
-o0o-
Kematian bisa datang
dengan cara yang wajar maupun yang tidak wajar. Banyak pelajaran yang bisa
diambil dari kematian seseorang. Namun, kematian adalah pelajaran yang paling
menyakitkan bagi siapapun yang ditinggalkan. Segera perbaiki hubungan antar
manusia sebelum pelajaran yang paling menyakitkan ini menghampiri kita ataupun
orang terdekat kita.
Tidak
ada rencana yang berjalan mulus sesuai kehendak kita, karena hanya Allah Sang
Maha Mengetahui yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ketika rencana dan
kehendak berlainan dengan kenyataan, jangan kecewa dan mendendam. Karena yang
terbaik adalah menyalakan lilin, bukan memaki kegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar