Senin, 09 April 2012
Mentoring Yuuuk
Suatu malam Umar ibn Al-Khattab keluar rumah hingga tiba di Baitul Haram. Dia menyibak kain penutup Ka'bah, dan dilihatnya Nabi Muhammad SAW sedang berdiri melaksanakan shalat. Saat itu beliau membaca surat Al-Haqqah. Umar menyimak bacaan Al-Qur'an itu dan dia merasa takjub terhadap susunan bahasanya. Dia berkata dalam hati, "Demi Allah, tentunya ini adalah ucapan seorang penyair seperti yang biasa diucapkan oleh orang-orang Quraisy."
Disaat yang sama Nabi SAW membaca,
"Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Ras yang mulia, dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit ksekali kalian beriman kepadanya." (Al-Haqqah:40-41)
Umar berkata dalam hati, "Kalau begitu ucapan tukang tenung."
Nabi SAW membaca,
"Dan, bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam."
Beliau meneruskan bacaannya hingga akhir surat. Mulai saat itulah Islam mulai menyusup ke dalam hatinya. Tetapi, dia tetap berkeras memerangi Islam hingga tiba waktunya Allah mengabulkan permohonan Rasulullah SAW untuk menngokohkan Islam dengan salah satu Umar. Umar ibn Al-Khattab lah orangnya.
-Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri-
Teman-teman tentunya tahu kelanjutan ceritanya? Bagaimana Umar bin Khattab akhirnya, melalui perantara adik dan iparnya, benar-benar tersentuh oleh apa yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan kemudian masuk Islam.
Begitu sulitnya Umar bin Khattab meninggalkan ajaran jahiliyahnya ketika itu hingga walaupun hatinya telah tersentuh dengan ayat-ayat Allah, dia masih saja berusaha untuk memerangi Islam. Sama halnya dengan paman Rasulullah, Abu Tholib, yang hingga akhir hayatnya masih belum juga mengucapkan kalimat syahadat. Padahal Abu Tholib berjanji untuk melindungi Rasulullah dan membiarkannya menyebarkan agama Islam, tapi Abu Tholib tetap tidak mau masuk kepada agama yang dibawa keponakannya. Apalagi Abu Jahal, salah satu Umar yang Rasulullah doakan untuk masuk Islam namun tidak terpilih, berusaha dengan segala upaya untuk memerangi Rasulullah dan orang-orang Islam.
Sama halnya dengan umat Islam di jaman ini sekarang. Kita yang telah menikmati indahnya ber-Islam dengan mudahnya karena agama Islam telah diterima di dunia, ternyata hanya sekedar catatan keterangan pada kartu identitass tidak lebih. Ternyata Islam yang kita pegang hanya berupa kerudung-kerudung yang digunakan karena mengikuti mode. Ternyata penderitaan umat-umat terdahulu dan para Nabi itu dibalas dengan zina. Apakah ini yang disebut orang beragama?
Apa? Apa yang menyebabkan saudara-saudara kita diluar sana masih menyenangi hal-hal yang berbau fana? Saudara-saudara kita itu sebenarnya telah mengetahui dan mengimani Islam, hanya saja mereka tidak menyadari bahwa ber-Islam itu tidak hanya sekedar menutup aurat dan shalat saja. Tapi masih banyak hal lainnya.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku." (Adz-Dzariyat : 56)
Al-Qur'an menjelaskan bahwa kewajiban manusia dan jin di bumi adalah untuk beribadah kepada-Nya. Beribadah itu banyak macamnya. Tersenyum kepada orang lain adalah ibadah, membuang sampah pada tempatnya adalah ibadah, berlaku baik pada tetangga adalah ibadah, melayani tamu dengan baik adalah ibadaha, banyak sekali jenis ibadah di dunia ini... Lalu mengapa kita masih melakukan berbagai macam maksiat jika waktu kita saja belum dirasa cukup untuk melakukan ibadah-ibadah itu?
Masa muda masa dimana gejolak emosi sedang tidak stabil dan meledak-ledak. Ada yang mengatakan moody. Ketika gejolak sedang meledak-ledak seperti itu, Islam lah solusi yang paling baik. Kita tidak akan bisa belajar Islam sendiri, tentunya harus ada sumber terpercaya yang bisa mengajarkan Islam dan kehidupan pada kita. Belajar Islam bisa dimana saja, asal terpercaya. Media elektronik sekarang sudah makin canggih, buku-buku bermanfaat banyak dijual di toko buku, ta'lim dan kajian juga banyak tersedia, mentoring-mentoring agama sudah sering diadakan oleh DKM-DKM daerah sekitar. Ketika kita elajar agama Islam dengan baik maka InsyaAllah emosi yang meledak-ledak itu bisa teredam, Hatipun menjadi damai, dan hidup tidak terasa sebagai beban tapi tingkatan untuk menuju Allah leih dekat.
Lalu apa yang membuat kita sulit sekai untuk memulai belajar agama? Apakah kita gengsi? Apakah gengsi untuk mengakui dan melakukan hal-hal yang disebut ibadah itu? Apakah melakukan maksiat lebih menyenangkan daripada melakukan kebaikan? Padahal kita sudah mengetahui bahwa kebaikan itu isa kita lakukan saat ini juga. Kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah, bisa saat ini juga. Lalu kenapa masa muda kita dipenuhi dengan melakukan berbagai macam maksiat?
Bahkan banyak saudara-saudara kita yang awalnya mengikuti ta'lim dengan giat, dihari yang lain telah ditemukan tidak menutup auratnya lagi dengan benar dan berkumpul di tempat yang tidak seharusnya. Apakah itu karena gengsi? Bahkan kita tidka tahu apa yang didapat setelah kita megikuti gegsi tersebut? Apakah kepuasan karena tidak melakukan kebaikan? Bukankah yang seharusnya merasakan itu adalah setan? Oh, Allah, apakah sudah berubah sejahat setan hati-hati manusia ini, Astaghfirullah.
Ayolah... Gengsi bukan untuk diikuti. Itu adalah peliharaan setan, untuk apa kita yang pelihara. Masa muda adalah masa yang paling pas untuk belajar agama, dimaa kita tidak akan disibukkan dengan kehidupan pasca sekolah yang sibuk. Otak sangat mudah menerima masukan pengetahuan dan mengingat dengan baik dibandingkann ketika kita sudah bermur nanti. Fisik juga sangat baik untuk digunakan pergi ke tempat yag jauh sekalipun untuk menuntut ilmu agama karena kita masih muda. Lalu apa yang kita tunggu?
Banyak mentoring-mentoring yang diadakan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus, bahkan komplek-komplek perumahan. Setidaknya dengan mentoring secara rutin kita telah menjalakan sunah Rasul yang sering berkumpul dan berceramah pada sahabat-sahabatnya dalam lingkaran-lingkaran. Oh. indahnya. Sangat indah Islam mengajarkan banyak hal kepada kita jika kita sudah paham. Maka dari itu, mentoring yuuuk??
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar