Senin, 09 April 2012

Bapak Tua Penjual Koran



Teringat satu hari sibuk saat dikampus, dimana agendaku sudah terangkum padat.

Ketika itu aku sedang menunggu balasan sms dari temanku yang minta ditemani dan ditonton saat seminar.
Aku duduk di kursi dan meja panjang di depan gedung kuliah temanku, mengeluarkan buku untuk dibaca saat menunggu. Maklum, sore nanti aku akan mengisi mentoring, sudah sepatutnya mereview dulu sebelum mengisi. Agar lebih siap dan yakin saat mengisi nanti.

Tiba-tiba seseorang menghampiriku yang sedang menunduk membaca buku di tempat duduk yang sepi mahasiswa itu. Aku menegok dan melihat seseorang yang sering aku lihat di depan gerbang masuk kampus, biasanya menjual tali sepatu warna-warni di tangannya. Bapak Tua itu, yang selalu aku lewati saat menjajakan dagangannya dengan senyum menolak, menandakan bahwa aku tidak akan membeli dagangannya. Oh, Allah, akhirnya aku bertemu dengan Bapak Tua ini. Bapak Tua yang terkenal di dunia sosial media mahasiswa Unpad. Terkenal tanpa diketahui oleh Bapak Tua itu sendiri. Banyak orang yang mempostingkan realita kehidupan Bapak Tua yang tidak diketahui namanya ini di FB. Mereka melakukan wawancara singkat pada Bapak Tua itu karena kasihan melihatnya yang kurus dan menyedihkan selagi menjual tali sepatunya yang tidak laku-laku. Sudah lama aku merasa tersentuh dan ingin membantu Bapak Tua itu namun bingung apa yang harus kulakukan untuk membantu Bapak itu karena aku tidak membutuhkan tali sepatu.




Dan akhirnya aku berkesempatan untuk membeli dagangannya hari itu. Alhamdulillah Allah mempertemukanku dengannya. Saat itu Bapak Tua itu menjual koran. Aku tidak masalah membeli koran meskipun biasanya aku megakses berita lewat internet atau tv. Yaah, setidaknya dengan koran bahan bacaanku menjadi bertambah dan aku bisa sedikit membantu Bapak ini.

"Koran neng?" katanya menawarkan dagangannya padaku yang berjarak kurang lebih 5 meter darinya.
"Berapa Pak?" aku menutup dan menaruh buku yang kubaca di pangkuanku dan menatap Bapak itu. Bapak Tua itu tidak menjawab tapi berjalan mendekat dan duduk di kursi di dekatku. Aku bertanya lagi dan Bapak itu menjawab, "lima ribu, neng." Aku SANGAT tidak peduli apakah harga itu terlalu mahal untuk ukuran koran biasa, yang aku pedulikan adalah bagaimana aku bisa sedikit mengurangi beban Bapak itu. Aku menatap matanya saat dia memberitahukan harganya. Kulihat matanya yang berkaca-kaca dan wajahnya yang sedikit lebih cerah saat aku mengatakan akan mengambil satu koran. Ya Allah, miris sekali melihat Bapak ini. Kasihan.

Dia mengatakan sesuatu yang tidak jelas karena berbahasa sunda. Sejauh penangkapanku dia baru saja mengatakan perasaan senangnya karena akhirnya ada yang membali koran jualannya juga sejak pagi. Aku pun berinisiatif menanyakan sejak jam berapa dia mulai berjualan pagi ini. Dengan suara yang lirih dan mata yang masih berair dia menjawab, "dari setengah tujuh, neng".

Ya Allah, aku ingin menangis saat mendengar jawaban dan ekspresinya. Bahkan saat menulis inipun aku masih ingin menitikkan air mata. Hamba-Mu yang satu ini sedang berjuang melawan betapa sulitnya mencari nafkah ditengah orang-orang yang tidak peduli pada sekitar. Dengan umurnya yang sudah tua dan dagangannya yang jarang laku. Semoga kesulitannya saat ini dibalas oleh-Mu di syurga kelak Ya Allah. Amin.

Aku merogoh uang ditasku dan memberikan bayaran padanya. Dia mengembalikan sejumlah uang padaku, aku berterima kasih. Ingin rasanya mengobrol lebih banyak dengan Bapak Tua ini. Namun aneh, lidahku kelu. Aku kehabisan kata-kata melihatnya. Aku tiba-tiba tidak punya topik untuk mengajaknya mengobrol lebih lama, merasakan pedih yang dirasakannya. Bapak Tua itu juga berterima kasih dan berjalan menjauhiku untuk kembali menawarkan korannya pada mahasiswa yang sedang lewat. Aku tidak memperhatikan karena sedang terlarut dalam pikiranku sendiri. Tapi sepertinya mahasiswa yang ditawari itu menolak dagangannya.

Pesanku hanya satu bagi yang membaca notes ini: belilah barang dagangan Bapak Tua itu, jangan hanya sekedar memberinya makanan atau uang atau sebagainya. Mengapa? Karena ketika kita membeli barang dagangan Bapak Tua itu, sedikit dari bebannya menjual barang yang tidak laku-laku itu akan berkurang, terbukti dari wajah senangnya ketika aku bersedia membeli korannya tadi. Saat kita hanya memberi dia makan atau sejumlah uang, dia memang merasa senang, namun beban akan dagangannya yang tidak laku-laku itu masih menggunung di pundaknya. Istilahnya seperti "Alhamdulillah saya sudah BISA menjual dagangan saya." Tidak mengapa jika sesekali ingin memberi, itu sangat baik. Namun sesekali juga belilah barang dagangannya. Atau jika memang benar-benar ingin membantu ekonomi Bapak Tua itu dan keluarganya, berilah sekalian modal besar untuk dijadikan usaha oleh Bapak Tua itu.

Hhh, masih banyak Bapak-Bapak Tua lain diluar sana yang bernasib sama dengan Bapak Tua ini. Semoga kelak Allah akan memberikan balasan terbaik pada mereka yang mencari nafkah dengan kepayahan. Semoga lindungan Allah selalu senantiasa bersamamu, amin.

Wallahu'alam bishawab.


Ciharalang,
21 April 2012, 04.33 (after edited)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar