
Di keluargaku (ayah, ibu, aku, dan adik) tak ada yang tak menyukai kucing. Bahkan bisa dibilang kita sudah seperti pawang kucing. Banyak kucing yang datang ke tempat kediaman kami. Kami bahkan tidak menyuruh atau memancing sang kucing untuk datang ke kediaman kami, kucingnyalah yang datang sendiri.
Dulu sebelum aku lahir, ayah dan ibuku memiliki hingga 17 kucing. Mereka benar-benar menyukai mahkluk bernama kucing itu. Ada yang gemuk, ada yang lucu, pokoknya semua kucing itu mereka beri nama dan beri makan. Tetapi ketika aku lahir, eyangku menyuruh ibu dan ayahku untuk membuang kucing itu karena khawatir bulunya akan membuatku sesak. Yah, terpaksalah itu kucing-kucing yang bisa dibentuk kesebelasan dan cadangannya dibuang atau diberikan kepada orang lain. Ada juga yang mati karena sakit. Tetapi ada satu kucing yang masih ada saat aku lahir, kucing itu gemuk dan beda dari yang lain. Makanya ibuku tidak tega untuk memberikannya. Jadilah kucing itu menemaniku di dunia ini. Haha.. Begitu pula dengan kelahiran adikku, tetap ada kucing di rumah.
Akibatnya, sampai saat ini aku sangat menyukai kucing. Aku seperti cewek ganjen yang selalu memanggil kucing yang aku temui di jalan.
Ketika aku mulai ngekost di jatinangor, otomatis aku tidak bisa memlihara kucing lagi. Tapi entah kenapa dalam kehidupanku itu pasti tetap ada kucing. Buktinya, di kosan pertamaku, aku sempat tidur bersama kucing kecil yang baru lahir. Karena aku kasihan pada kucing itu yang terus-terusan mengeong di pintu masuk kosan. Kemudian di kosan keduaku, aku menemukan kucing dengan bulu panjang yang menggemaskan. Di kosan ketigaku (kosanku yang sekarang), sangat banyak kucing. Saking akrabnya, ketika mereka mendengar bunyi "ceklek" ketika pintu kamarku dibuka, lima kucing langsung menyerbu ikut masuk. Mereka pikir aku membawa makanan, padahal boro-boro amat bawa makanan, orang dari kamar mandi kok.Dan sekarang di rumah, ada tiga kucing yang sering menetap di kediaman orang tuaku. Pertama, kucing betina berbulu panjang berwarna abu-putih. Karena sering menunggui ibuku yang sedang masak atau menunggui aku yang sedang masak, kami jadi selalu memberinya makan, dan kebiasaannya menunggui kami itu masih berlangsung sampai sekarang.
Kedua, kucing jantan oranye-putih yang masih kecil. Kucing ini sering sekali masuk ke kamar pada saat aku sedang ngenet, langsung naik ke pangkuanku, padahal belum tentu badan si kucing itu bersih, ckckck. Karena kucing ini masih kecil, dia senang sekali bermain. Begitu ada sesuatu yang bergerak-gerak (seperti kabel atau tali), langsung dikejarnya. Aihh, menggemaskan.Ketiga, kucing betina berwarna tiga: putih, hitam, oranye, bulunya lumayan panjang dan bersih. Kelihatannya dia baru saja melahirkan, soalnya perutnya lumayan besar dan seperti sedang menyusui. Kucing ini agak judes dan sombong, ketika dipanggil tidak menyahut ataupun mendekat. Tapi tetap saja aku suka, karena bulunya lembut di belas, dan wajahnya agak unik: gepeng dan terlihat aneh.
Hosh, hosh, pengalamanku bersama kucing masih banyak. Susah juga kalau harus diceritakan satu-satu seperti ini semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar