Pacaran.
Euh, apa enaknya sih pacaran? Di satu sisi memang terasa enak, tapi jika kita ulik kembali, ternyata masa muda jangan hanya dihabiskan dengan pacaran, mau tahu kenapa? Mari kita bahas.
Semua ini didasarkan atas pengalaman dan pemikiran pribadi.
Masa muda kita adalah masa yang sangat berharga dan akan sangat dirindukan jika kita sudah tua nanti. Maka dari itu, jangan sia-siakan waktu yang kamu tahu akan sangat kamu rindukan di masa nantinya dengan pacaran. Seperti pengalamanku (setelah menginjak bangku kuliah), aku memiliki 4 teman akrab. Dulu kami sering jalan bareng, tiba datangnya salah seorang dari kami dapet pacar, dia jadi jarang bersama kami. Sebenernya kalo menurut curhatnya dia sih sebenernya dia pingin lebih lama dengan kami teman-temannya, tapi dia nggak tega liat wajah pacaranya yang kayaknya pengen banget jalan sama dia, jadinya dia bingung2 gitu membagi waktunya, mau bersama kami atau bersama pacarnya itu. Sekarang-sekarang sih dia lebi sering dengan pacaranya ketimbang kami. Makan sore pasti sama pacaranya, pulang kuliah sama pacaranya. Kami jadi bukan teman dekat lagi. Kami hanya bersama jika ada sesuatu di kampus saja, kalau sudah pulang ke kosan kami maisng-masing lagi.
Sering kali aku dan kedua temanku yang lain main di salah satu kosan yang strategis (dekat dengan kampus), kami sering menginap, main sampai malam, nonton bareng. Betapa menyenangkan masa-masa itu (aku pun merindukannya, sekarang lagi masa liburan sih). Temanku yang sudah punya pacar itu tidak pernah sekalipun melakukan itu, tidak pernah nginep di kosan seseorang, selalu kosannya yang ketiban diinepin orang. Aku tidak tahu apakah itu memang dasar orangnya yang tidak suka main ataukah karena waktunya dihabiskan dengan pacarnya, yang pasti kami jarang sekali main dengannya. Lama kelamaan kami pun jadi segan dengannya, jarang sekali dia kami ajak main, karena kami berpikir bahwa saat itu mungkin dia sedang bersama pacarnya (biasanya tepat perkiraannya).
Intinya adalah, pacaran itu mengurangi jatah kita bermain atau menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat kita. Jodoh kita sudah ada dan akan dipertemukan juga nantinya oleh takdir Allah. Di masa nanti, ketika kita sudah menikah dan punya anak kemudian membesarkan anak kita sampai jadi orang dan punya cucu, kita akan terus-terusan hidup dengan pasangan kita tersebut, dan itu waktunya BERTAHUN-TAHUN artinya SANGAT LAMA, lebih lama dari masa remaja kita ketika biasanya kita mulai menyukai seseorang. Sayang sekali jika waktu bersama sahabat-sahabat yang kita cintai tersebut kita habiskan dengan orang yang hanya cinta monyet kita dan belum tentu akan menjadi pasangan hidup kita. Aku benar-benar merasakan indahnya memiliki sahabat yang bisa diajak berbagi dalam hal apapun juga (terutama tempat tinggal, makanan, dan curhatan karena kami anak kos). Jadi, tepislah perasaan ingin punya pacar karena orang yang kita nikahi nanti adalah InsyaAllah orang yang paling tepat untuk kita pacari.
Seperti yang kulihat dari cerita ibuku. Dia berkali-kali ditelepon oleh temen-temen SMAnya, temen-temen kuliahnya yang menanyakan seperti apa beliau sekarang, tinggal dimana, dan lain-lain. Betapa senangnya mendengar nada bicara ibuku ditelepon dengan temen-temennya yang tak pernah kudengar tawanya seperti itu, itu pasti tawa genit jika cewek sudah ngobrol dengan cewek, bahagia, senang. Betapa beliau menceritakan masa-masa SMAnya dulu, beliau duduk dengan siapa, dikecengin siapa, dll. Seru! Masa-masa itu tak kan pernah kembali. Itulah yang akan kita rindukan di masa tua nanti.
Maka dari itu, untuk sekarang, CARILAH SAHABAT, bukan CARILAH PACAR. Karena “pacar” akan kita temukan dalam diri suami/ Istri kita nanti setelah menikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar