
Bismillah...
Ceritaku di Jalan ini dimulai sangat unik. Berawal dari keingintahuanku yang besar akan 'sesuatu' yang bernama 'mentoring'.
Ketika pertama kali melihat hasil SNMPTN di website, aku kecewa karena tidak diterima di tempat impianku. Mungkin ini karena kesombonganku ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus dengan icon gajah aku mengatakan, "ini akan menjadi kampusku nanti." Dan ternyata, kampusku sekarang sama sekali jauh dari kampus Gajah. Well, ini yang dinamakan takabur, bertindak seakan kita sudah mengetahui garis tangan Allah, akhirnya malah kecewa. Satu pelajaran penting.
Hampir saja aku tidak akan menginjak bangku kuliah karena masalah finansial. Tapi Allah menolong jalan hamba-Nya ini sehingga kaki ini tetap masih bisa berpijak di dunia kampus dan bertemu dengan orang-orang luar biasa di dalamnya. Sejak saat itu aku berniat untuk masuk DKM ketika sudah kuliah nanti, belajar agama lebih banyak daripada ketika masih di bangku sekolah. Dan itu memang benar-benar terwujud di kemudian hari.
Masalah administrasi pendaftaran kuliah sudah selesai, tiba saatnya wawancara. Awalnya aku tidak mengerti wawancara jenis apa yang dimaksud. Karena masih polos, aku masuk saja ke dalam ruangan wawancara itu dengan senyum merekah. Seorang senior wanita berjilbab sudah duduk menantiku di kursi pewawancara. Teteh itu tersenyum manis seraya memberikan tangannya untuk dijabat. Jabat tagannya aneh, dilakukan 3x sambil mengucapkan 'Assalamualaikum'. Setelah duduk kuperhatikan teteh pewawancara yang sedang mengenalkan namanya, jilbabnya panjang, mungkin sampai ke pinggang.
Ternyata saat itu aku sedang diwawancara kerohaniannya. Teteh pewawancara bertanya apakah aku pernah bergabung dalam DKM sebelumnya? Apakah perna mengikuti mentoring? Aku merasa tidak enak karena jawabanku negatif semua. Aku merasa sangat payah. Saat itu aku ingin tahu mentoring itu seperti apa!!! Wawancara selesai dan kami lagi-lagi berjabat tangan sambil mengucapkan salam. Aku pergi dari ruangan wawancara itu dengan perasaan senang campur kecewa pada diri sendiri.
Setelah masuk kuliah, aku yang masih kuper dan tidak banyak bicara sangat bersemangat dengan suatu kegiatan bernama 'mabim'. Belum pernah kurasakan apa-apa saja yang diberikan di mabim. Dan ternyata mabim itu sukses! Sukses membuatku jadi orang yang berbeda dari saat jaman sekolah dulu. Akhirnya seuatu yang ditunggu-tunggu itu datang, mentoring! Aku senang karena konten mabim matematika ada mentoringnya. Aku mengenal 2 teteh yang berjilbab hingga pinggang itu dan beberapa teman satu kelompok. Ternyata mentoring itu seperti ini toh. Aku bertekad untuk lebih sering mengikuti sesuatu bernama mentoring ini.
Waktu terus berjalan. Aku semakin mengagumi teteh-teteh berjilbab sepinggang dan ber-rok itu, hingga aku memutuskan untuk menggunakan rok juga. Tidak ada yang aneh, rasanya sama seperti masa SMA dulu, jadi aku lanjutkan saja menggunakan rok. Mabim selesai dan akupun semakin dekat dengan beberapa senior, termasuk pementorku saat mabim. Aku begitu kagum pada mereka dan mulai memanjangkan kerudungku.
Entah bagaimana awalnya akhirnya aku menjadi dekat dengan salah satu teteh akhwat--begitu mereka menyebutnya. Teteh ini selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan. Dan suatu saat beliau menginap di kosanku dan bercerita banyak hal. Padahal saat itu lingkaranku belum lancar, namun karena keingintahuanku yang begitu besar aku mencari-cari ilmu dan pengetahuan lewat bertanya. Dan akhirnya ketika lingkaranku sudah lancar dan rutin kembali, aku mengetahui lebih banyak hal. Dan lingkaran itu masih berjalan hingga kini.
Pesanku hanya satu. Mencari ilmu tentang agama itu tidak hanya kita dapatkan di lingkaran kita. Karena ilmu itu ada di banyak aspek kehidupan kita. Lingkaran hanyalah salah satu daripadanya. Ketika kita hanya menggantungkan diri kepada lingkaran maka ketika ada sesuatu pada lingkarannya akan berdampak kepada kesehatan ruhiyah kita. Yaa, misalnya pertemuannya jarang karena banyak kesibukan, atau yang paling parah merasa tidak mendapatkan apa-apa saat di lingkaran, akan menyebabkan malasnya kita mengikuti lingkaran-lingkaran tersebut. Padahal ilmu itu bisa kita dapatkan dimana saja, di radio, di buku, ngobrol bersama teman-teman yang paham, internet, baaaanyak media yang bisa kita gunakan. Bukankah akan menjadi lebih puas jika ilmu yang kita dapatkan adalah hasil mencari sendiri? Jangan sampai hati-hati kita dipenuhi dengan keinginan akan kesempurnaan. Inginnya MR yang memberi kepada kita, inginnya MR yang sempurna seperti sahabat-sahabat Rasul, inginnya teman sekelompok yang selalu mengingatkan, inginnya ini inginnya itu. Bagaimanalah? Hidup ini tidak sebatas keinginan-keinginan mutlak saja, tetapi harus dicapai dengan pengorbanan ini itu. Allah telah menganugerahi kita dengan otak cemerlang yang bisa mencari solusi sendiri mengenai masalah-masalah keingian yang belum tercapai tersebut.
Jadi intinya, ayo kita menuntut ilmu lebih banyak dari media-media yang ada!!! Jangan sia-siakan hidayah yang telah Allah berikan pada kita dengan kekecewaan akan keinginan yang tidak tercapai. Mari kita lanjutkan jalan kita menuju tempat mulia yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur'an...
Wallahualam.
-Perpustakaan Matematika, Jatinangor-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar